SEMARANG, beritajateng.tv – Tak ada salahnya mencoba mempelajari budaya daerah lain. Seperti yang dilakukan oleh puluhan masyarakat Semarang yang belajar Tari Jejer Gandrung di Taman Indonesia Kaya, Kota Semarang, Sabtu, 7 Desember 2024.
Selama hampir dua jam, mereka dengan seksama mempelajari dan mempraktikan Tari Jejer Gandrung yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, mereka belajar langsung dari ahlinya, yakni para penari Padepokan Alang-alang Kumitir Banyuwangi.
“Kami memberikan materi tentang Tari Jejer Gandrung sebagai upaya pelestarian seni tradisi. Alhamdulillah pesertanya sangat antusias dari teman-teman di Semarang,” kata pendiri Padepokan Alang-alang Kumitir, Punjul Ismuwardoyo kepada beritajateng.tv usai kegiatan.
Punjul menjelakan, kegiatan yang bertajuk “Menari di Taman” ini merupakan inisiasi dari Bakti Budaya Djarum Foundation dan Galeri Indonesia Kaya. Total, kegiatan ini berlangsung selama dua hari hingga Minggu, 8 Desember 2024 besok.
BACA JUGA: Bawakan Tari Ratoh Jaroe, SMAN 4 Semarang Raih Juara II di Festival Budaya Thailand
Terbagi menjadi dua sesi tiap harinya, yakni sesi pagi untuk masyarakat umum dan sesi sore untuk penari sanggar profesional. Di mana masing-masing sesi diikuti oleh 30 peserta.
“Ini merupakan upaya pelestarian sekaligus memperkenalkan seni budaya tradisi Nusantara. Tentu kita saling belajar, saling mengenal. Dan kami akan belajar Tari Semarangan juga supaya kita bisa saling mengenal mencintai sesama anak bangsa,” papar Panjul.
Kesulitan imbangi tempo Tari Jejer Gandrung
Lebih lanjut, Tari Jejer Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang menjadi ikon daerah tersebut di tingkat nasional maupun internasional. Punjul mengungkapkan, ada sedikit kesulitan saat masyarakat Semarang mempelajari Tari Jejer Gandrung itu.
Salah satunya terkait ketukan atau tempo tarian. Menurutnya, masyarakat atau penari Semarang terbiasa dengan ketukan tarian Jawa akan kesulitan mengikuti ketukan tari Banyuwani.
“Kalau tarian daerah Bayuwangi ketukannya keras, cepat, sehingga di situ peserta biasanya tertinggal. Tapi kalau hapalan saya pikir sama aja, mereka lebih tertinggal di ketukan-ketukan itu,” ujar Punjul.
BACA JUGA: Inspiratif! LKP Merpati Blora Gelar Festival Seni Tari Nusantara di Mall
Sementara itu, peserta latihan menari, Khairunnisa Zhafirah dan Tiara Amanda Salsabila mengaku senang dapat belajar langsung Tari Jejer Gandrung. Apalagi, mereka cukup penasaran saat Tari Jejer Gandrung viral di media sosial.
“Kita penasaran gimana tariannya ternyata terlalu susah gerakannya dan temponya terlalu cepat. Tapi kita seneng dapet pengalaman baru,” jata Zhafirah.
“Belum pernah sama sekali dan ini pertama kali belajar Tari Jejer Gandrung. Harapannya bisa belajar lebih dalam lagi untuk mempelajari budaya-budaya di Indonesia,” tambah Tiara. (*)
Editor: Farah Nazila





