“Sehingga nanti frater mampu menambah pemahaman anak-anak menjadi lebih kuat dibanding yang ngajar guru biasa,” ucap Novi.
Sementara itu, salah satu frater, Martinus Dendo Ngara, mengaku tak sabar mendampingi difabel selama satu bulan. Ia pun mengungkapkan rasa penasarannya terhadap para difabel. Sebab, selama ini ia menganggap anak difabel cenderung pasif.
“Pemikiran saya mereka adalah orang yang pasif, tapi tadi sampai di sini justru disambut dengan hangat, tidak menyangka,” ucap Martinus. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





