Beberapa buku diantaranya yang masih saya ingat tentang panduan untuk menjadi Alpha Female adalah buku dari penulis Indonesia, Henry Manampiring, dengan judul bukunya ‘The Alpha Girl’s Guide: Menjadi Cewek Smart, Independen, dan Anti Galau’ (2017) dan buku ‘Why Men Love Bitches'(2002) karya Sherry Argov. Kedua buku ini sama-sama laris keras.
Jujur saja, sejak Filosofi Teras, saya sangat menyukai gaya penulisan Henry Manampiring; ia dapat menjelaskan konsep sebuah filosofi dengan gaya yang santai dan dapat banyak pembaca jangkau, gampangannya, dia mampu ‘menghargai setiap level pemahaman pembaca’. Namun, sayangnya, saat mencoba membaca karya lain miliknya, ‘The Alpha Girl’s Guide’, saya merasa kurang nyaman dengan ideologi yang ia sampaikan kepada para pembaca. Buku ini pada dasarnya adalah buku self-development yang membahas soal tips apa saja yang harus perempuan lakukan agar bisa menjadi Alpha Female.
Dalam buku ini, Henry menulis bahwa Alpha Girl adalah perempuan ideal dan kuat, konsep dari Alpha ini cenderung menggambarkan kemandirian yang ketekunan yang hanya milik laki-laki saja. Sementara itu, pemberdayaan terhadap perempuan di lakukan melalui hal-hal yang justru menghalangi mereka untuk lebih unggul. Dari sini, Henry melanggengkan bias gender, karena konsep Alpha tersebut. Ini secara tak langsung menempatkan Alpha Female sebagai perempuan yang memilih untuk mengubah diri seutuhnya untuk menjadi maskulin. Sebab terdapat ideologi bahwa feminitas hanya akan membuat perempuan terlihat lemah jika terbandingkan oleh laki-laki.


