SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa kampung di Kota Semarang masih memegang erat peninggalan pendahulunya. Salah satu yang masih dipertahankan ialah Slompret Kematian.
Slompret Kematian adalah pengabar berita duka atau tepatnya orang meninggal yang disampaikan lewat bunyi terompet. Bentuknya seperti gramofon, namun ada juga yang sudah berevolusi menjadi lebih kecil.
Slompret Kematian masih eksis di beberapa kampung kuno di Kota Semarang. Kampung Kentangan, Kecamatan Semarang Tengah, menjadi salah satunya.
Muhammad Daffa, salah satu warga Kampung Kentangan menceritakan, kakeknya dulu mengemban kepercayaan warga untuk menyimpan seperangkat perkakas lelayu. Tak kecuali Slompret Kematian.
Menurut penuturan sang kakek, slompret merupakan penggambaran dari terompet sangkakala yang ditiup Malaikat Isrofil sebagai penanda datangnya kiamat. Bedanya, slompret menandai kiamat kecil atau saat manusia meninggal dunia.
“Saat kotak penyimpan suara slompret itu berbunyi, klotak-klotak, berirama. Kakek bilang, nggak lama lagi bakal ada yang mati,” ungkapnya kepada beritajateng.tv, belum lama ini.
BACA JUGA: Hidupkan Lagi Tradisi Lama, Masjid Kauman Semarang Gelar Nyumet Dung Pertanda Buka Puasa
Sementara itu, warga Kampung Kentangan lainnya, Tiktik bahkan dipercaya menjadi peniup slompret. Ia menyebut, kampungnya masih mempertahankan slompret karena speaker masjid sering tidak terdengar.
“Suaranya nggak senyaring slompret. Makanya warga masih minta saya untuk meniup kalau ada orang meninggal,” ucapnya.
Dalam meniup slompret, Tiktik biasanya menaiki sepeda mengelilingi kampung. Ia pun kini menjadi satu-satunya warga yang masih menjadi peniup slompret.
“Untuk meniup slompret harus punya napas panjang. Yang lain itu pernah coba tidak sepanjang saya,” ungkapnya.
Kampung di Semarang yang masih gunakan Slompret Kematian
Sementara itu, Sejarawan Semarang Rukardi Ahmadi memaparkan jika Slompret Kematian adalah sebuah tradisi yang tidak ada di tempat lain. Hal itu lantaran tempat lain lebih memilih menggunakan kentongan, alih-alih slompret.
Meski begitu, Rukardi mengaku jika ia belum tahu secara jelas kapan Slompret Kematian itu muncul. Pasalnya, kurangnya arsip peninggalan yang menyebut Slompret Kematian secara jelas.





