Nasional

Menilik Kantor VSTP di Kota Lama Semarang, Awal Mula Aksi Mogok Buruh Terbesar se-Indonesia

×

Menilik Kantor VSTP di Kota Lama Semarang, Awal Mula Aksi Mogok Buruh Terbesar se-Indonesia

Sebarkan artikel ini
VSTP semarang
Bekas kantor VSTP di Jalan Letjen Suprapto, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tanggal 1 Mei menjadi Hari Buruh yang dirayakan di seluruh dunia. Hari itu identik dengan demonstrasi dan aksi mogok para buruh untuk menuntut hak-hak para pekerja.

Siapa sangka, Kota Semarang pernah mengawali aksi mogok buruh serempak sekaligus terbesar di Hindia-Belanda. Hal tersebut terjadi pada 9 Mei 1923.

Aksi buruh tersebut berawal dari Vereeniging van Spoor en Tramweg Personel (VSTP) atau Serikat Buruh Kereta Api dan Kereta Listrik yang didirikan di Semarang. Jejak kantor VSTP masih tersisa di Jalan Letjen Suprapto, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.

Pantauan beritajateng.tv, gedung tersebut telah beralih fungsi menjadi rumah warga. Papan peringatan juga terpasang di depannya, memberitahukan jika tanah dan bangunan sedang dalam sengketa.

Pegiat Sejarah Semarang, Mozes Christian Budiono menjelaskan, bangunan tersebut merupakan sisa-sisa perjuangan VSTP dalam memperjuangkan hak buruh.

“Sisa-sisa perjuangan VSTP masih dapat kita lihat di bekas bangunan VSTP di sebelah timur Kota Lama yang membuktikan Semarang sebagai salah satu poros pergerakan nasional di masa itu,” ucapnya saat beritajateng.tv hubungi, Rabu, 1 Mei 2024.

BACA JUGA: Serukan Tuntutan di Unjuk Rasa May Day 2024, Buruh Jateng Singgung Upah Rendah hingga UKT Mahal

Mozes menjelaskan, pada saat itu sebenarnya telah terjadi beberapa aksi buruh mogok. Sebabnya ialah kebijakan-kebijakan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang tidak memihak pada rakyat.

Antara lain mengurangi dana tenaga kesehatan, dana fasilitas umum, menaikkan pajak, hingga upah buruh yang tidak layak.

Hanya saja, kata Mozes, aksi buruh saat itu belum terorganisir secara maksimal. Barulah saat VSTP hadir, gerakan buruh dapat lebih terencana dan serempak.

“Begitu di Semarang ada VSTP, mereka rapat kalau misalnya pemimpin VSTP sampai ditangkap maka buruh-buruh harus mogok. Melihat banyaknya kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan mereka,” bebernya.

Semarang menjadi poros pergerakan buruh

Mozes menambahkan, penangkapan Ketua VSTP, Semaoen menjadi titik awal aksi mogok terbesar se Hindia-Belanda pada 9 Mei 1923 silam. Tak hanya pekerja kereta api, tapi juga buruh tram, pedagang di pasar, tukang sado, pekerja bengkel dan kusir dokar ikut dalam aksi ini.

“Terbesar nggak cuma di Kota Semarang, karena setelah itu meluas hampir di seluruh Pulau Jawa, soalnya aliansi buruh punya koneksi satu dengan lainnya di berbagai kota, VSTP nggak hanya di Semarang,” jelasnya.

Mozes menyebut, aksi meluas ke beberapa daerah lain, seperti Pekalongan, Tegal, Cirebon, Kertosono, Madiun dan Surabaya.
Dampaknya, perekonomian waktu menjadi terhambat.

BACA JUGA: 700 Orang Akan Geruduk Kantor Gubernur Jateng saat Hari Buruh, Protes Kawasan Candi Semarang

Pasalnya, kereta api dan trem masih menjadi tulang punggung jalur distribusi berbagai komiditas.

“Setelah itu pemerintah kolonial mengatasi gerakan ini dengan represif, seperti menurunkan tentara biar cepat tertangani,” tandas Mozes.

Sayangnya, menurut berbagai sumber, aksi mogok buruh besar-besaran di Jawa itu tak berakhir manis. Salah satunya pemerintah mengasingkan Semaoen ke Belanda. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp