SEMARANG, beritajateng.tv – Menteri pendidikan baru disebut akan mengkaji dan mengevaluasi ulang Kurikulum Merdeka yang baru seumur jagung menjadi kurikulum nasional.
Hal itu semakin menegaskan stigma “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum” yang beredar di masyarakat. Pada praktiknya, implementasi kurikulum memang sering bergonta-ganti seiring bergantinya menteri atau kabinet baru.
Salah satu elemen masyarakat yang paling terdampak dari perubahan kurikulum itu tentu saja ialah para guru atau tenaga kependidikan.
BACA JUGA: Warganet Tuduh Murid Banyak Tak Tahu dan Susah Baca Gegara Kurikulum Merdeka, Ini Kata Pengamat
Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) bidang Kurikulum SMPN 40 Semarang, Tri Yanto, misalnya. Ia menilai, Kurikulum Merdeka sebenarnya memiliki teori yang cukup bagus.
“Dalam teori memang baik, siswa diajak belajar dengan menyenangkan. Tapi pratiknya, implementasinya sulit sesuai teori,” katanya saat beritajateng.tv temui, Kamis, 24 Oktober 2024.
Guru anggap Kurikulum Merdeka memberatkan
Hanya saja, lanjut Tri Yanto, dalam pelaksanaannya Kurikulum Merdeka justru memberatkan beban kerja para tenaga pendidik terutama guru. Semenjak berlakunya Kurikulum Merdeka, tugas guru di sekolah tak hanya mengajar.
Akan tetapi, Kurikulum Merdeka juga menuntut guru untuk mengerjakan berbagai tugas di aplikasi PMM (Platform Merdeka Mengajar)
“Tugas administrasi guru di aplikasi PMM sangat memberatkan karena menyita waktu kami,” sambung Tri Yanto.
Lebih lanjut, ia kemudian membandingkan Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum 2013 (K-13). Menurutnya, guru lebih menyukai penerapan Kurikulum 2013 ketimbang Kurikulum Merdeka.
BACA JUGA: Menteri Pendidikan Baru Bakal Evaluasi Pengadaan Kembali UN, Ini Kata Pelajar di Semarang
Alasannya, Kurikulum 2013 tidak membebani guru dengan berbagai tugas administratif. Ia pun berharap, Abdul Mu’ti dapat mempertimbangkan kembali Kurikulum Merdeka.
Di lain pihak, Kepala SMAN 3 Semarang, Yuwana, menyampaikan pendapat berbeda. Ia menegaskan jika pihaknya selalu mendukung setiap kebijakan yang keluarkan oleh pemerintah.
Menurutnya, setiap kebijakan terutama masalah kurikulum pendidikan pasti memiliki sisi positif dan sisi negatifnya.
“Kami pasti mengambil sisi positifnya, mana yang bisa kita terobos agar anak-anak memiliki kesempatan besar untuk berkembang. Kami akan mengikuti dulu kebijakan menteri yang baru seperti apa, ambil kebijakan apa pasti kami dukung,” ujarnya.
Yuwana memastikan, semua tenaga pendidik di SMAN 3 Semarang akan menerima setiap kebijakan pemerintah. Sebab, baik guru maupun siswa harus bisa menyesuaikan setiap kebijakan yang Mendikdesmen keluarkan. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





