Gaya Hidup

Meriahnya Nobar Film Eksil di Semarang, Ungkap Peristiwa 1965 dan Sedihnya Kisah Diaspora di Luar Negeri

×

Meriahnya Nobar Film Eksil di Semarang, Ungkap Peristiwa 1965 dan Sedihnya Kisah Diaspora di Luar Negeri

Sebarkan artikel ini
film eksil
Salah satu penonton saat mengikuti nobar film Eksil di Kota Semarang, Jumat, 23 Februari malam. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sejak tayang di bioskop pada 1 Februari 2024, film Eksil hingga kini masih menarik perhatian masyarakat. Penjualan tiket film garapan Lora Amaria itu dapat terbilang laris meski dengan penanyangan yang terbatas di sejumlah bioskop.

Di Kota Semarang misalnya. Dua agenda nonton bareng (nobar) film Eksil di Cinepolis Java Mall pada hari Jumat, 23 Februari malam ‘banjir’ penonton.

Salah satu acara nobar diinisiasi secara perseorangan. Meski begitu, antusias penonton tetap tinggi dan berhasil menjual habis sejumlah 168 tiket.

“Film Eksil sebenarnya sudah rilis 2022 lalu, tapi persoalan berikutnya adalah di 2023 susah menemukan bioskop. Saat tayang di bioskop, aku nonton dan merasa film Eksil ini bagus banget, itulah kenapa aku peduli,” ucap salah satu penyelenggara nobar, Anisa Rachmawati kepada beritajateng.tv.

Anisa mengatakan, nobar film Eksil di beberapa daerah memang mengalami pembatalan secara sepihak oleh aparat. Akan tetapi, hal tersebut tak mengurungkan niatnya dalam menggelar nobar kali ini.

BACA JUGA: Kena Tudingan Ableism oleh Warganet, Ini Sejumlah Kontroversi Film Agak Laen di Medsos

Menurutnya, film Eksil memiliki makna yang mendalam dengan sejarah bangsa. Terlebih terkait sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tak banyak diketahui oleh generasi muda.

“Aku nggak peduli sol pencekalan karena memang murni film ini bagus, film ini bagus secara teknis, secara catatan sejarah, tujuan pembuatan film ini juga jelas ya,” imbuhnya.

Sorotan film Eksil

Secara singkat, film Eksil mengangkat kisah para eksil (exile) atau diaspora yang tidak bisa kembali ke Indonesia usai peristiwa G30S tahun 1965.

Para eksil terpaksa kehilangan status kewarganegaraan karena panasnya politik dalam negeri. Selama puluhan tahun mereka terlunta-lunta di negara orang dalam upaya menemukan tempat yang bersedia menampung mereka.

Bahkan, para eksil juga putus kontak dengan keluarga yang ada di Indonesia. Salah satunya Asahan Aidit, adik bungsu DN Aidit.

Menurut Anisa, rakyat Indonesia memiliki luka lama terhadap PKI dan bagaimana kemudian cerita tentang PKI itu disebarluaskan oleh pemerintah. Oleh karenanya, film Eksil berperan besar dalam meluruskan sejarah di masa lampau.

Apalagi, Presiden Joko Widodo pada 2023 telah mengakui 12 pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang terjadi di pada periode 1965-1966.

“Ada beberapa sejarah yang sebenarnya terkubur. Dari situlah sejarah sebenarnya perlu dibicarakan lebih jauh agar tidak ada ketakutan terhadap sejarah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Sinopsis Film Dua Hati Biru, Segera Tayang di Bioskop 2024

Sebagai informasi, film Eksil berhasil menyabet beberapa penghargaan bergengsi. Seperti Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia 2023 dan Best Film dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2022.(*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp