SEMARANG, beritajateng.tv – Sejumlah warga di Kota Semarang mengaku mendapat ‘serangan fajar‘ sesaat sebelum pencoblosan pada Rabu, 14 Februari 2024 hari ini.
Mereka umumnya ditemui oleh sejumlah tim sukses (timses) baik dari calon presiden dan wakil presiden, maupun calon anggota legislatif. Para timses kemudian menawarkan sejumlah uang dengan catatan wajib memilih partai atau kader tertentu.
Serangan fajar sendiri merupakan praktik politik uang yang erat dengan kesan membeli suara pemilih. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Semarang gencar mensosialisasikan bahwa praktik serangan fajar ini merupakan pelanggaran.
Bawaslu Kota Semarang bahkan meminta masyarakat untuk melapor jika menemukan serangan fajar. Menurut mereka, pemberian uang itu masuk dalam pelanggaran Pemilu karena tergolong money politics.
“Laporkan saja (serangan fajar), kami siap menindak untuk menyukseskan Pemilu 2024,” kata Ketua Bawaslu Kota Semarang, Arief Rahman.
Serangan fajar dapat mempengaruhi pilihan
Meski Bawaslu Kota Semarang telah melarang serangan fajar, namun fakta di lapangan politik uang masih marak terjadi.
Seorang warga Kecamatan Ngaliyan yang enggan disebut namanya, mengaku mendapat Rp 100 ribu dari tim sukses salah seorang capres-cawapres. Hal itu ia terima pada Minggu, 11 Februari lalu.
“Dua hari sebelumnya ditawari uang. Syaratnya cuma suruh ngefoto KTP,” kata seorang pria yang berusia 26 tahun itu.
Tidak hanya itu, ia menyebut bahwa banyak tetangga di sekitar tempat tinggalnya yang juga mendapat hal serupa. Syaratnya adalah menyerahkan fotokopi KTP untuk kemudian ditukar uang Rp 100 ribu.
“Ada kordinatornya, tetangga. Tetangga yang awalnya nawari. Mau enggak uang Rp100 ribu. Tapi pas coblosan pilih capres ini,” tutur dia.
Ia awalnya mengaku takut dengan tawaran tetangganya itu. Namun setelah ia pikirkan, ia memilih mengambul amplop namun tak berniat mencoblos sesuai intruksi sang timses.
“Coblosnya tetap sesuai hati nurani, terserah kalau nanti ketahuan dan mereka minta balik uangnya ya tak balikan. Tapi apa enggak malu? Kan udah main curang,” ucap pria tersebut.
BACA JUGA: Unggul Sementara di Quick Count Pemilu 2024, Prabowo Unggah Foto Animasi Bareng Gibran
Pengalaman serupa juga dialami oleh seorang warga Tembalang yang enggan disebut namanya. Bahkan, ia baru mendapat serangan fajar beberapa jam sebelum pencoblosan, yakni pukul 20.00 WIB tadi malam.
Ia menyebut, ia sekeluarga mendapat total 6 amplop yang berisi masing-masing sebesar Rp 100 ribu. Syaratnya sama, yakni hanya mengumpulkan fotokopi KTP.
Sebenarnya, lanjutnya, ada rasa ingin menolak pemberian tersebut. Namun, karena timses terkait tampak meyakinkan dan uang yang mereka tawarkan pun lumayan besar, ia akhirnya menerima amplop tersebut.
“Akhirnya aku coblos orangnya. Sebenarnya ya merasa berdosa tapi masa nerima uangnya tapi nggak milih, kalo menerima amplop ya harus memilih,” akunya.(*)
Editor: Farah Nazila





