Hukum & Kriminal

Muncul Lagi di Kasus Pembunuhan Vina Cirebon, Ini Pengakuan Saka Tatal Korban Salah Tangkap Polisi

×

Muncul Lagi di Kasus Pembunuhan Vina Cirebon, Ini Pengakuan Saka Tatal Korban Salah Tangkap Polisi

Sebarkan artikel ini
Korban Saka Tatal
Saka Tatal (tengah), mengaku menjadi korban salah tangkap polisi dalam kasus pembunuhan Vina di Cirebon. (Foto: X/@Candj09)

SEMARANG, beritajateng.tv – Saka Tatal, seorang warga Cirebon, mengaku sebagai korban salah tangkap dalam kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita dan kekasihnya, Muhammad Rizky Rudiana alias Eky, pada tahun 2016.

Saat kejadian, Saka Tatal baru berusia 15 tahun. Dalam kasus tersebut, Vina dan Eky dicegat dan disiksa hingga tewas oleh sebelas anggota geng motor, salah satunya diduga adalah Saka Tatal.

Dari delapan pelaku yang tertangkap, Saka Tatal mendapat hukuman paling ringan karena masih di bawah umur. Setelah menjalani hukuman penjara selama 3 tahun 8 bulan, Saka Tatal bebas bersyarat pada April 2020.

BACA JUGA: Sosok Rivaldi, Konon Berkaitan dengan Kasus Vina Cirebon tapi Penjara Seumur Hidup

Kasus Vina kembali viral, dan Saka Tatal muncul mengaku bahwa ia adalah korban salah tangkap. Di kediamannya di Cirebon, Saka bersama sang kakak, Jaka, menceritakan pengalamannya.

“Iya betul, enggak ada surat penangkapan,” ujar Saka, belum lama ini.

Menurut Saka, saat kasus ini viral, ia terpaksa meninggalkan rumah karena polisi sering datang dan menanyakan kasus tersebut, yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Saka akhirnya mencari perlindungan ke rumah Bu Titin, pengacaranya. Polisi kerap kali mendatangi rumah mereka untuk menanyakan tentang tiga pelaku yang masih buron.

Kedatangan polisi buat Saka Tatal trauma

Jaka, kakak Saka, mengatakan bahwa keluarga mereka sering kali didatangi oleh polisi dari berbagai tingkat kepolisian, namun jawabannya tetap sama, bahwa Saka tidak tahu-menahu tentang keberadaan pelaku yang buron tersebut.

Jaka juga menyampaikan bahwa Saka masih trauma bertemu dengan polisi karena ingatannya tentang penyiksaan yang ia alami saat penangkapan masih sangat jelas.

“Dari penyiksaan, pemukulan, kekerasan, sampai disetrum. Sampai saat ini saya masih kerasa. Kalau dibilang saya benci polisi saya memang benci,” tuturnya.

Saka mengaku bahwa selama penyidikan, ia mengalami penyiksaan, pemukulan, kekerasan, bahkan penyetruman, yang membuatnya benci terhadap polisi.

BACA JUGA: Terungkap Akun Medsos Terduga Egi, Otak Pembunuhan Vina Cirebon

Menurut Saka, ia tidak melakukan apa yang orang lain tuduhkan dan hanya mengakui kesalahan di bawah tekanan oknum polisi.

“Bahwasanya saya tidak melakukan apa yang orang tuduhkan. Saya penginnya normal kayak dulu lagi. Bahwa Saka sebetulnya tidak bersalah sama sekali. Terus banyak tekanan juga oleh oknum polisi waktu itu. Akhirnya terpaksa mengakui padahal bukan kesalahan Saka sendiri,” jelasnya.

Saka menegaskan bahwa pada malam kejadian, ia berada di rumah dan memiliki saksi yang bisa membuktikan keberadaannya.

“Di malam Minggu itu juga tidak tahu-menahu. Saka posisi ada di rumah. Saksi ada, sampai saat ini juga saksi masih ada bahwasanya Saka ada di rumah,” jelas Saka.

Harapan Saka ke depannya adalah agar namanya bisa kembali bersih seperti dulu. Ia ingin hidup normal dan masyarakat menerimanya kembali tanpa memandang sebelah mata. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp