Gaya Hidup

Nikah Ala Gen Z, Belanja Vendor Wedding Anti Ribet di Let’s Get Married

×

Nikah Ala Gen Z, Belanja Vendor Wedding Anti Ribet di Let’s Get Married

Sebarkan artikel ini
Pameran Wedding Shopping Experience Let's Get Married
Pameran Wedding Shopping Experience Let's Get Married by Topeng The Event yang digelar di DP Mall Semarang pada 21-23 Agustus 2026. (Dok. Istimewa)

SEMARANG, beritajateng.tv – Bagi gen Z, merencanakan pernikahan kini tak selalu identik dengan mendatangi gedung pameran, berpindah dari satu booth vendor ke booth lainnya, lalu membawa pulang setumpuk brosur. Cara baru yang lebih santai, praktis, dan tetap estetik mulai ditawarkan lewat Let’s Get Married by Topeng The Event.

Wedding exhibition yang akan berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 di DP Mall Semarang ini mengusung konsep “Wedding Shopping Experience”, dengan pendekatan menyerupai aktivitas belanja sehari-hari. Calon pengantin dapat melihat pilihan vendor, membandingkan layanan, berkonsultasi langsung, hingga berburu promo dalam satu lokasi.

Konsep tersebut untuk mendekati karakter pasangan muda, khususnya Gen Z, yang menginginkan proses persiapan pernikahan lebih sederhana, fleksibel, tetapi tetap fashionable dan estetik.

Owner Topeng The Event, Evelyne Joyce, mengatakan pemilihan mal sebagai lokasi juga menjadi bagian dari strategi untuk membuat wedding expo terasa lebih dekat dengan gaya hidup generasi muda.

“Sebetulnya pamerannya sama saja, tetapi kali ini di mal dan lebih mewah juga. Gen Z itu maunya simpel, seperti belanja. Kalau anak-anak disuruh datang ke tempat yang agak ribet, susah. Tapi kalau di mal, sambil jalan bisa melihat-lihat, siapa tahu tertarik,” ujar Joyce usai bertemu vendor di Rooms Inc Semarang, Senin, 10 Agustus 2026.

BACA JUGA: Pollux Hotel Group Gandeng 100 Pelaku Wedding dan EO, Bidik Semarang Jadi Kota MICE Unggulan

Menurut Joyce, pendekatan tersebut bukan berarti mengurangi sisi premium dari sebuah wedding exhibition. Sebaliknya, Topeng The Event ingin mengemas pengalaman berbelanja kebutuhan pernikahan dengan tampilan yang lebih proper, modern, dan menarik secara visual.

Lebih dari 50 Vendor, Disusun Berdasarkan Tema

Let’s Get Married menghadirkan lebih dari 50 vendor yang mencakup berbagai kebutuhan pernikahan, mulai dari venue, hotel, dekorasi, wedding organizer, bridal, jas, wedding cake, souvenir, undangan, musik dan hiburan, foto, video, hingga wedding stylist.

Yang membedakan, vendor tidak sekadar ditampilkan sebagai booth yang berdiri sendiri. Perancangan pameran ini dalam empat konsep atau tema, sehingga calon pengantin dapat melihat gambaran yang lebih utuh mengenai seperti apa suasana pernikahan yang ingin mereka wujudkan.

“Biasanya pameran sendiri-sendiri. Ini gedung sendiri, gedung ini sendiri. Nah, kali ini mau dibikin grouping supaya temanya kelihatan,” jelas Joyce.

Dengan konsep tersebut, calon pengantin tidak hanya datang untuk mencari satu vendor tertentu. Mereka bisa mendapatkan inspirasi sekaligus membayangkan bagaimana venue, dekorasi, busana, dan berbagai elemen lain dapat terpadukan menjadi satu konsep pernikahan.

Pembuatan Wedding Expo Seperti “Mall Experience”

Pemilihan DP Mall Semarang juga bukan tanpa alasan. Lokasinya yang berada di tengah kota membuat calon pengantin dapat mengunjungi pameran tanpa harus secara khusus mendatangi venue wedding expo.

Pengunjung bisa datang sambil menikmati aktivitas di mal, kemudian berhenti untuk melihat vendor atau konsep pernikahan yang menarik perhatian.

Joyce menyebut pendekatan kasual tersebut sengaja dipertahankan agar pengalaman wedding shopping tidak terasa terlalu formal.

“Sebetulnya mau tidak mau Gen Z itu sukanya yang keren-keren. Yang secara estetik bagus,” katanya.

Selain vendor pernikahan, penyelenggara juga menyiapkan sejumlah elemen yang dekat dengan tren kuliner dan gaya hidup anak muda. Salah satunya adalah kehadiran produk makanan kekinian yang disebut akan menjadi salah satu daya tarik selama pameran.

Cashback hingga Rp20 Juta dan Hadiah Emas

Pengalaman berbelanja kebutuhan pernikahan di Let’s Get Married juga terlengkapi berbagai program promosi.

Joyce membeberkan adanya cashback hingga Rp20 juta untuk transaksi dengan vendor tertentu, hadiah wedding ring sebagai hadiah utama, serta logam mulia untuk sejumlah program transaksi. Masing-masing vendor juga memberikan promo eksklusif selama pameran berlangsung.

“Kalau pengunjung datang kan untuk branding, tapi goal-nya supaya ada transaksi. Karena vendor ikut pameran mengeluarkan biaya. Tugas kita bagaimana caranya supaya ada transaksi,” ujar Joyce.

Ia berharap setiap vendor dapat memperoleh sekitar 10-15 customer yang deal setiap hari selama pameran berlangsung.

Gen Z Suka Pernikahan Intimate, tapi Industri Wedding Tetap Harus Bergerak

Perubahan selera generasi muda juga terlihat dari tren pernikahan yang semakin mengarah pada konsep personal dan intimate.

Namun, intimate wedding bukan berarti kebutuhan vendor menjadi hilang. Joyce menilai konsep intimate justru dapat tetap berjalan bersama industri wedding. Sejumlah hotel dan ballroom memiliki ruang yang dapat tersesuaikan untuk jumlah tamu yang lebih kecil.

“Sekarang memang maunya intimate, tapi jangan terus cuma di KUA saja. Nanti vendornya enggak hidup. Ekonominya enggak jalan,” ujarnya.

BACA JUGA: Pemilik Wedding Organizer Ayu Puspita Jadi Tersangka! Jumlah Korban Puluhan dengan Nominal Rp16 Milyar

Owner Topeng The Event, Paulus, mengatakan tren pesta pernikahan saat ini semakin mengarah pada konsep yang personal, intimate, dan tematik, dengan detail yang mencerminkan karakter pasangan.

“Bagi kami, pernikahan bukan hanya tentang kemewahan tetapi tentang menciptakan pengalaman yang berkesan bagi pasangan dan seluruh tamu yang hadir,” tutup Paulus. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp