Selama Ramadan, permintaan petis bumbon tergolong tinggi. Dalam sehari, Tissa bisa menjual sekitar 100 porsi. Jumlah tersebut bahkan meningkat saat akhir pekan, terutama Jumat hingga Minggu ketika pengunjung kawasan alun-alun lebih ramai.
Harga petis bumbon cukup terjangkau, hanya bermodal Rp12.000 masyarakat sudah bisa menikmati kuliner khas ramadan di Semarang.
BACA JUGA: Rekomendasi Tempat Ngabuburit Cantik di Semarang saat Ramadan, Cocok Buat Nunggu Buka Puasa
Selain petis bumbon, ia juga menjual jajanan khas lain dari Bustaman, yaitu ketan biru dan coro santan. Ketan biru dibuat dari beras ketan yang diberi pewarna biru, kemudian disajikan dengan “tenten”, parutan kelapa yang dimasak dengan gula jawa dan pandan. Sementara coro santan memiliki bentuk mirip serabi, tetapi bercita rasa manis dan disajikan bersama kuah santan gurih.
Bagi pembeli, makanan tersebut bukan sekadar pilihan berbuka puasa, tetapi juga membawa kenangan masa lalu. Lala (27), warga Jalan Sumbing Semarang, mengaku langsung tertarik membeli ketika melihat lapak petis bumbon di lokasi tersebut.
“Kalau tiap puasa sama Lebaran pasti masaknya petis bumbon, jadi kangen sama momen-momen Ramadan tiap tahun. Tadi kebetulan lihat ada yang jual, langsung beli,” katanya.
Kuliner musiman seperti petis bumbon menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki daya tarik kuat. Rasa autentik yang sulit pembeli temukan di tempat lain serta nilai nostalgia membuat kuliner ini tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





