SEMARANG, beritajateng.tv – Ramadan tidak hanya identik dengan ibadah, tetapi juga menghadirkan keriduan terhadap berbagai tradisi kuliner khas yang jarang ditemui di bulan lain. Di Kota Semarang, salah satu makanan legendaris yang selalu warga nantikan kehadirannya adalah petis bumbon, hidangan tradisional khas Bustaman yang hanya muncul saat Ramadan dan Dugderan.
Di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Semarang, lapak petis bumbon milik Tissa (33) tampak ramai pembeli menjelang waktu berbuka. Perempuan yang merupakan pedagang generasi kedua ini meneruskan usaha sang ibu yang sudah berjualan sejak ia masih kecil.
Menurut Tissa, keistimewaan petis bumbon justru terletak pada kemunculannya yang musiman. Menu ini memang tidak dijual setiap hari, melainkan hanya pada momen tertentu dalam setahun.
BACA JUGA: Lezatnya Bubur India di Masjid Pekojan Semarang, Aroma Rempah Gurih Favorit Jamaah Saat Ramadan
“Petis bumbon itu memang khusus Ramadan sama Dugderan saja. Selain itu kami biasanya cuma jual sambal goreng. Jadi setahun sekali keluarnya petis bumbon, ketan biru sama coro santan,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di lapaknya pada Selasa, 24 Februari 2026.
Petis bumbon sendiri merupakan olahan sambal goreng dengan tambahan petis yang menghasilkan cita rasa gurih manis khas. Namun yang paling membedakan adalah penggunaan telur bebek sebagai bahan utama. Telur tersebut dimasak bersama bumbu selama berjam-jam hingga menghasilkan tekstur padat dan bumbu meresap sempurna.
“Masaknya sekitar dua sampai tiga jam biar bumbu meresap dan cabai enggak langu. Kalau telur ayam itu enggak bisa gempi [tekstur padat tapi lembut], kalau telur bebek semakin kita masak berkali-kali malah semakin enak,” jelasnya.
Ragam Bumbu Sederhana Petis Bumbon
Bumbu petis bumbon sebenarnya tergolong sederhana, seperti kencur dan rempah dapur pada umumnya, tetapi teknik memasak yang lama menjadi kunci kenikmatan. Proses tersebut juga membuat warna bumbu lebih pekat dan aroma petis semakin kuat.
Selama Ramadan, permintaan petis bumbon tergolong tinggi. Dalam sehari, Tissa bisa menjual sekitar 100 porsi. Jumlah tersebut bahkan meningkat saat akhir pekan, terutama Jumat hingga Minggu ketika pengunjung kawasan alun-alun lebih ramai.
Harga petis bumbon cukup terjangkau, hanya bermodal Rp12.000 masyarakat sudah bisa menikmati kuliner khas ramadan di Semarang.
BACA JUGA: Rekomendasi Tempat Ngabuburit Cantik di Semarang saat Ramadan, Cocok Buat Nunggu Buka Puasa
Selain petis bumbon, ia juga menjual jajanan khas lain dari Bustaman, yaitu ketan biru dan coro santan. Ketan biru dibuat dari beras ketan yang diberi pewarna biru, kemudian disajikan dengan “tenten”, parutan kelapa yang dimasak dengan gula jawa dan pandan. Sementara coro santan memiliki bentuk mirip serabi, tetapi bercita rasa manis dan disajikan bersama kuah santan gurih.
Bagi pembeli, makanan tersebut bukan sekadar pilihan berbuka puasa, tetapi juga membawa kenangan masa lalu. Lala (27), warga Jalan Sumbing Semarang, mengaku langsung tertarik membeli ketika melihat lapak petis bumbon di lokasi tersebut.
“Kalau tiap puasa sama Lebaran pasti masaknya petis bumbon, jadi kangen sama momen-momen Ramadan tiap tahun. Tadi kebetulan lihat ada yang jual, langsung beli,” katanya.
Kuliner musiman seperti petis bumbon menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki daya tarik kuat. Rasa autentik yang sulit pembeli temukan di tempat lain serta nilai nostalgia membuat kuliner ini tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





