SEMARANG, beritajateng.tv – Asap tipis mengepul dari tungku kayu bakar di halaman Masjid Pekojan, Semarang, menandai mulainya tradisi yang selalu hadir setiap Ramadan. Di atas perapian sederhana itu, sebuah kuali raksasa berisi Bubur India diaduk perlahan menggunakan kayu panjang, menghadirkan aroma rempah yang khas dan menggugah selera.
Proses memasak dengan kayu bakar menjadi salah satu rahasia kelezatan bubur legendaris ini. Perpaduan panas api alami dengan santan dan rempah-rempah menghasilkan aroma gurih harum yang lebih kuat ketimbang kompor biasa.
Saat bubur mulai mengental, wangi serai, kayu manis, jahe, daun pandan, dan bawang putih bercampur dengan aroma asap kayu, menciptakan sensasi rasa tradisional yang autentik.
Keunikan Bubur India Pekojan terletak pada perpaduan cita rasa Nusantara dan India yang kaya rempah. Tradisi Bubur India Pekojan juga mencerminkan sejarah kawasan Pekojan sebagai wilayah permukiman pedagang keturunan India di Semarang pada masa lalu. Perpaduan budaya itu kemudian bertransformasi menjadi identitas kuliner yang tetap bertahan hingga kini.
BACA JUGA: Enam Warisan Budaya Tak Benda Baru Asal Semarang, Termasuk Ganjel Rel dan Bubur India
Juru masak Bubur India, Achmad Paserin (55) atau Pak Serin, mengatakan tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan kini memasuki generasi keempat.
Menariknya, keterampilan memasak bubur ini tidak dipelajari secara formal. Ilmu tersebut terwaris secara turun-temurun di lingkungan komunitas masjid. Pak Serin sendiri sudah sekitar 12 tahun terlibat langsung dalam proses memasak untuk jamaah.
“Setiap Ramadan memang selalu ada. Ini kami cuma meneruskan dari orang-orang tua dulu, supaya budaya ini tetap lestari sampai sekarang,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di Masjid Pekojan pada Kamis, 19 Februari 2026.





