Kuliner

Lezatnya Bubur India di Masjid Pekojan Semarang, Aroma Rempah Gurih Favorit Jamaah Saat Ramadan

×

Lezatnya Bubur India di Masjid Pekojan Semarang, Aroma Rempah Gurih Favorit Jamaah Saat Ramadan

Sebarkan artikel ini
Bubur India
Juru masak Bubur India, Achmad Paserin (kanan), saat mengaduk Bubur India di Masjid Pekojan Semarang, Kamis, 19 Februari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Asap tipis mengepul dari tungku kayu bakar di halaman Masjid Pekojan, Semarang, menandai mulainya tradisi yang selalu hadir setiap Ramadan. Di atas perapian sederhana itu, sebuah kuali raksasa berisi Bubur India diaduk perlahan menggunakan kayu panjang, menghadirkan aroma rempah yang khas dan menggugah selera.

Proses memasak dengan kayu bakar menjadi salah satu rahasia kelezatan bubur legendaris ini. Perpaduan panas api alami dengan santan dan rempah-rempah menghasilkan aroma gurih harum yang lebih kuat ketimbang kompor biasa.

Saat bubur mulai mengental, wangi serai, kayu manis, jahe, daun pandan, dan bawang putih bercampur dengan aroma asap kayu, menciptakan sensasi rasa tradisional yang autentik.

Keunikan Bubur India Pekojan terletak pada perpaduan cita rasa Nusantara dan India yang kaya rempah. Tradisi Bubur India Pekojan juga mencerminkan sejarah kawasan Pekojan sebagai wilayah permukiman pedagang keturunan India di Semarang pada masa lalu. Perpaduan budaya itu kemudian bertransformasi menjadi identitas kuliner yang tetap bertahan hingga kini.

BACA JUGA: Enam Warisan Budaya Tak Benda Baru Asal Semarang, Termasuk Ganjel Rel dan Bubur India

Juru masak Bubur India, Achmad Paserin (55) atau Pak Serin, mengatakan tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan kini memasuki generasi keempat.

Menariknya, keterampilan memasak bubur ini tidak dipelajari secara formal. Ilmu tersebut terwaris secara turun-temurun di lingkungan komunitas masjid. Pak Serin sendiri sudah sekitar 12 tahun terlibat langsung dalam proses memasak untuk jamaah.

“Setiap Ramadan memang selalu ada. Ini kami cuma meneruskan dari orang-orang tua dulu, supaya budaya ini tetap lestari sampai sekarang,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di Masjid Pekojan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dalam satu kali masak, sekitar 21 kilogram beras terolah untuk kebutuhan kurang lebih 200 jamaah. Proses memasak dimulai setelah salat zuhur dengan merebus air hingga mendidih, kemudian memasukkan wortel, daun bawang, bawang putih, serai, daun pandan, dan rempah-rempah khas. Setelah bumbu meresap, beras dan santan pun masuk kuali hingga menjadi bubur kental bercita rasa gurih hangat.

“Kalau semua bahan sudah masuk, masaknya sekitar satu setengah sampai dua jam. Tapi persiapannya memang lama,” jelas Pak Serin.

Sajian Bubur India di Kala Berbuka Puasa

Saat waktu berbuka tiba, bubur disajikan bersama sayur kuah berbumbu rempah berwarna kemerahan yang kaya rasa menciptakan perpaduan yang unik dan berbeda dari bubur pada umumnya. Tekstur buburnya lembut dengan rasa gurih santan yang seimbang, sementara rempah memberikan sensasi hangat di tenggorokan.

Menu berbuka semakin lengkap dengan aneka pelengkap seperti buah semangka, kurma, wingko, air putih, serta susu cokelat hangat. Kombinasi hidangan sederhana ini justru menghadirkan pengalaman berbuka yang istimewa bagi jamaah.

Bagi masyarakat, bubur ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga kebersamaan dan sedekah Ramadan. Jamaah yang datang tidak hanya warga sekitar, tetapi juga pengunjung dari berbagai daerah yang sengaja datang untuk merasakan atmosfer berbuka di Masjid Pekojan.

Antusiasme warga terlihat dari banyaknya jamaah yang rela datang setiap tahun. Salah satunya Agus Wijayanto, warga Jalan Barito, yang mengaku sudah tiga kali berturut-turut berburu Bubur India Pekojan saat Ramadan.

BACA JUGA: Sajian Bubur India di Masjid Jami Pekojan, Tradisi Turun-temurun yang Terus Lestari

“Enak sih, pokoknya mantap. Enggak mengecewakan. Saya sudah tiga tahun ke sini, buburnya itu ngangenin. Rasanya pas dan beda dengan yang lain,” kata Agus.

Ia biasanya membawa pulang bubur untuk keluarganya yang berjumlah empat orang dan tetap nikmat meski mereka makan keesokan hari.

“Ini satu porsi bisa untuk satu keluarga, empat orang. Bahkan besoknya kami makan lagi masih enak. Jadi setiap Ramadan memang harus ke sini,” ujarnya.

Di tengah modernisasi kuliner, Bubur India Pekojan menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup selama ada generasi yang menjaga. Aroma rempah yang mengepul dari dapur masjid setiap Ramadan seakan menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan di museum, tetapi juga di piring sederhana saat waktu berbuka tiba. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp