Di antara ribuan kaset yang tersusun, ada banyak nama musisi Indonesia dan mancanegara dari berbagai era. Grup musik Dewa 19, Sheila on 7, Ungu, ST12 (sekarang Setia Band), Stinky, hingga Element termasuk grup musik yang masih pembeli cari.
Sementara itu, untuk musik internasional, Deny menyebut nama-nama seperti Oasis, Guns N’ Roses, Bon Jovi, Nirvana, Madonna, dan sejumlah musisi lain yang albumnya masih tersimpan di warung tersebut.
Menariknya, kaset yang dulu mungkin dianggap biasa kini kembali dicari. Sebagian pembeli datang bukan sekadar untuk mendengarkan musik. Akan tetapi juga untuk mendapatkan album fisik yang sudah sulit ditemukan di pasaran.
Tarif Kaset Pita
Deny mengaku tidak secara khusus membedakan harga berdasarkan kelangkaan atau popularitas musisi. Selama kaset tersedia, dia memasang harga yang relatif seragam, yakni sekitar Rp20 ribu per kaset.
“Kami bukan kolektor. Rata semua, Rp20 ribu. Kalau harus mencari kaset tertentu, kami enggak berani. Karena memang bukan kolektor,” bilangnya.
Karena itu, Deny menyarankan, pembeli perlu menyesuaikan pilihan dengan stok yang masih tersedia. Sejumlah album populer yang dahulu banyak pembelu buru kini sudah habis. Sedangkan kaset-kaset lainnya masih memenuhi rak warung.
Meski tidak menghitung satu per satu jumlah koleksinya, Deny memperkirakan ada ribuan kaset yang masih tersimpan. Kondisi kaset secara umum masih cukup baik. Dia tidak bisa memastikan kualitas setiap kaset karena jumlahnya terlalu banyak untuk diperiksa satu per satu.
Masa Kejayaan Kaset di Era 1980-an
Deny masih mengingat betul masa ketika kaset menjadi barang yang mudah terjual. Pada periode 1987 hingga 1990-an, permintaan kaset begitu tinggi sehingga sejumlah album bisa habis hanya dalam hitungan hari.
Dia mencontohkan album-album musik luar negeri yang kala itu populer. Di antaranya seperti Britney Spears, Celine Dion, Madona, serta sejumlah musisi lain yang banyak digemari masyarakat.
“Dulu tahun 1987, 1989, 1990 itu jual kaset seperti jual kacang goreng,” katanya mengenang.





