BACA JUGA: Gen Z, Meja Tarot, dan Ruang Refleksi Diri
Pada masa itu, Deny masih bisa memperoleh kaset baru dari distributor dan toko musik. Semarang memiliki sejumlah tempat penjualan kaset yang menjadi langganannya, termasuk Indomusik dan toko-toko lain yang kini sudah tidak beroperasi seperti dahulu.
Untuk memenuhi kebutuhan dagangan, Deny juga pernah berbelanja ke Jakarta, khususnya kawasan Glodok. Sementara itu, kaset lagu-lagu daerah biasa diperolehnya dari kawasan Pasar Senen.
Kini, perubahan cara masyarakat menikmati musik perlahan mengubah keadaan. Kehadiran format musik lain, kemudian menyusul layanan digital, membuat penjualan kaset tidak lagi seramai dulu.
Deny mengatakan, produksi kaset baru yang biasa dia peroleh sudah berhenti sekitar 2012. Sejak itu, stok dagangannya lebih banyak berasal dari kaset bekas milik orang lain yang masih layak jadi barang dagangan.
Pembelian stok kaset bekas terakhir kali dia lakukan sekitar satu hingga dua tahun lalu. Adapun, dia kini memilih menghentikan sementara pembelian karena jumlah kaset yang tersedia masih sangat banyak.
Bertahan dengan Cara Sederhana
Denhy mengatakan, jumlah pembeli saat ini tidak lagi seperti masa kejayaan kaset. Akan tetapi, dia bilang akan tetap mempertahankan usaha yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarganya selama puluhan tahun.
Baginya, warung nasi Padang dan kaset merupakan satu kesatuan yang sejak awal memang tidak dirancang untuk menjadi toko kaset konvensional.
Dia juga tidak menempatkan diri sebagai kolektor yang sengaja memburu rilisan langka. Kaset pita yang dia jual merupakan barang dagangan. Artinya, dia tidak selalu mengetahui secara terperinci jumlah maupun tingkat kelangkaan setiap album.
Kondisi tersebut membuat warungnya memiliki karakter berbeda dari toko koleksi musik yang secara khusus mencari rilisan tertentu. Pembeli bisa datang untuk makan, melihat-lihat rak kaset, lalu menemukan album yang mungkin sudah lama mereka cari.





