Nur mengaku dirinya tidak berada di rumah saat peristiwa itu terjadi. Ia tengah berada di Bali ketika mendapat kabar suaminya menjadi sasaran tembakan.
“Saya sendiri itu masih di Bali. Saya ya agak-agak shock juga yang namanya tembakan ya. Dan itu namanya penembakan itu kan dilakukan orang yang berarti benar-benar orang yang kejam,” ujar Nur.
Nur menyebut saat kejadian, selain suaminya, terdapat anak-anaknya di rumah. Bahkan, anaknya yang berusia 22 tahun tengah bersama teman-temannya.
“Ada anak-anak saya dan anak saya itu kebetulan ada teman-temannya juga. Tapi di teras rumah itu kan ada jeda pagar rumah, jadi anak-anak saya di teras rumah. Suami saya itu di luar pagar rumah, tapi itu masih di area rumah kami,” jelasnya.
Ia menggambarkan rumahnya memiliki bangunan depan seperti aula sekaligus area parkir. Posisi suaminya berada di luar pagar, namun masih dalam satu kawasan rumah. Kendati sempat syok, Nur mengaku berusaha mengendalikan diri.
“Mesti kan pikirannya kacau kan, tapi ya saya bisa mengontrol perasaan saya, pikiran saya. Sudahlah nanti, yang penting alhamdulillah,” katanya.
Amat Tengah Kawal Kasus Penculikan dan Aktif Bantu Warga, Nur Akui Tak Tahu Motif Penembakan
Terkait dugaan motif, Nur mengaku tak mengetahui secara pasti alasan di balik aksi penembakan tersebut. Ia menegaskan, secara pribadi suaminya tidak memiliki konflik dengan siapa pun.
“Kalau saya itu enggak tahu [apa motifnya]. Secara pribadi suami saya itu enggak ada permusuhan antarpribadi itu enggak ada,” ujarnya.
Namun, Nur mengungkapkan bahwa saat ini suaminya tengah mendampingi penanganan kasus dugaan penculikan seorang pedagang martabak yang terjadi pasca-Pilkada. Ia menyebut kasus tersebut hingga kini belum sepenuhnya selesai.
“Cuman sekarang ini suami saya itu lagi ngawal kasusnya orang. Kasus-kasus penculikan, kasus penculikan pedagang martabak suami saya yang ngawal. Tersangka sudah ada satu, cuman belum ditahan,” ungkapnya.





