Jateng

Pakar Ingatkan Ancaman Banjir di Puncak Musim Hujan Bulan Januari-Februari: Pantura Paling Rawan

×

Pakar Ingatkan Ancaman Banjir di Puncak Musim Hujan Bulan Januari-Februari: Pantura Paling Rawan

Sebarkan artikel ini
Bencana Hidrometeorologi | ancaman banjir | Sungai Nglegong
Permukiman warga terendam banjir atas jebolnya tanggul Sungai Nglegong di Dusun Ngendo, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Selasa, 10 Desember 2024 malam. (Foto: X/@Jateng_Twit)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pakar lingkungan dan tata kota Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang, Mila Karmila, mengingatkan ancaman banjir pada puncak musim hujan selama bulan Januari-Februari.

Curah hujan yang tinggi selama puncak musim hujan berpotensi mengakibatkan banjir di daerah Jawa Tengah, terutama di sepanjang wilayah pantai utara (pantura).

“Hampir seluruh pantura mulai dari Semarang, Brebes, Rembang, Demak, Kendal, Pati berisiko. Harapannya semua wilayah di pantura menjadi titik fokus daerah khususnya pemerintah provinsi untuk menyediakan antisipasi atau mitigasi yang paling pas untuk menangani banjir di kawasan tersebut,” kata Mila saat beritajateng.tv hubungi, Selasa, 21 Januari 2025.

Guna menghindari terulangnya bencana banjir, Mila berujar bahwa pemerintah semestinya bisa memetik pelajaran dari pengalaman-pengalaman tahun sebelumnya.

BACA JUGA: Merasa Dejavu, Pj Gubernur Jateng Keluhkan Banjir Brebes Terulang di Lokasi Sama: Loh kok ke Situ Lagi?

Apalagi, banjir bukanlah hal baru di sekitar pantura Jawa Tengah. Setiap tahunnya, banjir selalu terjadi, dan bahkan titik-titik banjir kian bertambah.

“Harusnya pemerintah belajar. Jangan modelnya setelah banjir baru kemudian berbondong-bondong bergerak, entah pengerukan, memperdalam saluran drainase, dan sebagainya. Itu namanya tidak antisipatif, tidak belajar,” katanya.

Untuk di Kota Semarang, Mila bahkan menyebut seluruh 16 kecamatan berpotensi dilanda banjir. Bahkan termasuk di daerah atas seperti Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Gunungpati.

Tembalang yang tadinya tidak diperkirakan juga terjadi banjir. Artinya, pemerintah harus bisa mengantisipasi di 16 kecamatan, jangan sampai daerah yang tidak langganan banjir jadi banjir,” paparnya.

Hadapi ancaman banjir, pompa air tak cukup mengatasi

Lebih lanjut, Mila turut menyoroti kegunaan pompa air dalam mengatasi banjir. Ia mencontohkan, rumah pompa air di Tanah Mas bisa dibilang mencukupi karena jumlahnya memadai.

Meski begitu, pompa air hanya bisa berfungsi maksimal ketika debit air tidak dalam jumlah banyak. Sementara jika debit air cukup tinggi, maka pompa air akan bekerja sangat berat dan tidak seimbang dengan debit air yang ada.

“Sebesar apa pompa yang kita mau buat untuk kemudian bisa memompa air? Artinya, yang perlu diperhatikan adalah saluran dan drainase lancar mengalirkan air sampai ke laut,” tekannya.

BACA JUGA: Banjir Bandang dan Longsor Terjang Pekalongan, BPBD Jateng Ungkap 27 Warga Petungkriyono Hilang

Ia mengingatkan, pemerintah semestinya mulai bergerak untuk menyiapkan datangnya puncak musim hujan. Salah satunya yakni dengan normalisasi atau pembersihan sampah di saluran drainase.

Jangan sampai, ia menambahkan, bencana banjir terulang kembali karena tidak adanya persiapan yang matang.

“Harapannya pemerintah telah belajar dan menyiapkan seluruh armadanya, supaya nanti tidak ada wilayah-wilayah yang tidak terpantau dengan baik,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp