“Maka menurut saya, carilah energi terbarukan itu yang minim dampak. Itu tadi yang saya bilang, misalnya seperti matahari,” katanya.
BACA JUGA: Soroti Proyek Geothermal, Pakar Lingkungan SCU Beberkan Dampak Lingkungan di Permukiman Padat Penduduk
Selain matahari, Uli juga menyinggung potensi energi angin. Meski intensitasnya tidak merata, ia menilai sumber energi ini tetap layak untuk dikaji.
“Karena angin, menurut para ahli, kekuatannya itu enggak sama. Jadi di beberapa tempat itu kekuatannya enggak sama. Tapi menurut saya, kalau diteliti, ya mungkin saja, gitu,” ujarnya.
Di sisi lain, Uli memahami alasan di balik kuatnya dorongan proyek geotermal saat ini. Hal tersebut tidak lepas dari tingginya ketergantungan pada batu bara dan besarnya cadangan panas bumi yang dimiliki Indonesia.
“Karena dia bisa menggantikan fosil, fuel yang dari minyak bumi sama batu bara. Kan listrik kita hampir 80% masih dari batu bara listrik kita. Jadi ya, ini kan menyebabkan pencemaran terus, eksploitasi bumi. Maka kemudian mereka harapkan pakai geotermal, karena kita Indonesia memang nomor dua setelah Amerika. Sumber daya panas buminya tertinggi, gitu,” tandas Uli. (*)
Editor: Diaz A Abidin





