Pameran Foto & Arsip Moch Ichsan Walikota Semarang Pertama Bertajuk ‘Ode untuk Ayah’

Plt Walikota Semarang Hevearita G. Rahayu dan Firman Putra Kedua Moch Ichsan Melihat Pameran Foto dan Arsip 'Ode untuk Ayah'. /Foto: Ellya.

Semarang, 11/12 (BeritaJateng.tv) – Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, bekerja sama dengan keluarga Ikhsan (Adi dan Firman), serta Yayasan Riset Visual mata Waktu menggelar Pameran “Ode untuk Ayah, Ode to a Father”, di Oudetrap, Kota Lama Semarang, pada 10-18 Desember 2022.

Pameran dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 120 tahun Mochamad Ichsan Walikota Semarang Pertama.

Selain pameran, juga dilakukan penyerahan secara simbolik arsip-arsip Moch Ichsan kepada Pemkot Semarang.

Seperti diketahui, Mochamad Ichsan merupakan Walikota Pertama Semarang. Jabatan Ini diamanahkan kepadanya sejak 8 Januari 1946 hingga 1949. Pria kelahiran Weleri tahun 1902 kd memiliki perjalanan hidup yang panjang. Ia hadir dalam kurun waktu dengan pelbagai perubahan zaman. Zaman feudal, kolonial, lalu kemudian kesadaran berbangsa, pendudukan Jepang lantas Merdeka.

Walau demikian, tak banyak kisah Moch. Ichsan kita jumpai. Jangankan auto biografinya, biografinya saja sulit didapatkan. Ia merupakan figur yang sangat ketat menjaga rahasia.

Ichsan selalu menolak dengan halus saat ada permintaan untuk menerbitkan memoar atau buku perihal dirinya. Kisah-kisah Moch Ichsan hanya diceritakan secara lisan kepada kedua putranya, Adi dan Firman, itupun setelah mereka beranjak dewasa.

Salah satunya, kisah pengangkatannya sebagai Kepala Sementara Republik Indonesia di Semarang. Penunjukan itu sekaligus menyatakan eksistensi kedaulatan RI yang baru ke hadapan masyarakat Internasional.

Dalam kronik Revolusi Indonesia jilid 2 yang disusun Pramoedya Ananta Toer pada tanggal 6 Januari 1946, tercatat bahwa amanah pengangkatan ini dibawa langsung ke Semarang oleh delegasi pemerintah RI yaitu Menteri Pemuda Dalam Negeri Mr. Harmani, Menteri Kesehatan dr. Darmasetiawan, Mr. Latif dan seorang wartawan bernama Rosihan Anwar.

“Di Jakarta terjadi perundingan antara sekutu dengan Sjahrir cs. Inggris mempertanyakan kelai RI benar benar ada, siapa penganggung jawab RI di kota Semarang? Jakarta Bingung, namun segera menunjuk penanggung jawab dengan Moch Ichsan sebagai penanggung jawab yang artinya memang ia benar berada di Kota Semarang, ” ujar Kurator Pameran Ode untuk Ayah, Oscar Motuloh yang mengisahkan kembali cerita Firman Ichsan.

Kala itu, kedatangan pasukan Sekutu (Inggris) untuk melucuti senjata balatentara Jepang yang kalah perang telah disusupi pasukan NICA yang berambisi re-kolonialisasi Indonesia membuat rakyat Indonesia murka dan mulai mengadakan perlawanan sengit.

Mereka mendarat di tiga pelabuhan penting Indonesia yakni di Tanjung Mas Semarang, Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya. Hingga menimbulkan berbagai teror, di Semarang pecah pertempuran lima hari Semarang dan merembet menjadi peristiwa Palagan Ambarawa. Kondisi ini menyebabkan pemerintah RI hijrah ke Yogyakarta sejak Januari 1946 hingga 27 Desember 1949.

Menurut Firman, kisah yang menarik dan kerap diceritakan kepadanya yaitu mengenai Kota Semarang yang telah mengubah jalan hidup ayahnya.

Walau masa jabatannya tidak berlangsung lama, namun Ichsan merasa Kota Semarang telah membuatnya terlahir kembali (sebagai orang Indonesia). la pun mengagumi Rakyat Semarang yang menolak mendapatkan jatah beras Inggris dan ingin merasakan beras Republik.

“Cerita para pemuda dan pemudi (yang menjadi kurir) dari Front Barat Semarang yang gagah berani, diucapkan dengan nada kekaguman. Serta kepercayaan yang diberikan para pemimpin Republik untuk memimpin kota yang dicintainya,” ungkap Firman.

Kini Ichsan telah berpulang 31 tahun silam, Firman dan Adi pun merasa perlu untuk menyumbangkan dokumen-dokumen yang disimpan almarhum semasa Revolusi kepada negara.

Arsip penting keluarga itu dijadwalkan diserahkan pada tanggal 10 Desember 2022 kepada Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang. Walau ia tidak pernah menganggap dirinya pahlawan, melainkan hanya pelaku zaman. Namun, bagi putra-putra dan keturunannya, tentulah ia seorang besar. Sepatutnyalah semua keturunan ini menghaturkan rasa terima kasih kepada mereka yang pernah berjuang untuk terbentuknya bangsa. Karenanya persembahan pada sang ayah, dihaturkan dalam bentuk cerita apa yang ditekuninya: fotografi dan dokumentasi.

Dengan adanya pameran ini, Firman berharap semoga bangsa Indonesia selalu Ingat untuk tidak sekedar mengenang, melainkan juga memahami pemikiran-pemikiran mereka yang memperjuangkan kemerdekaan. Seperti halnya yang sering diucapkan Ichsan kepada Firman, “Banyak orang-orang dikenang, tetapi ‘pemikiran-pemikirannya’ selalu dilupakan,” ujar Firman. (Ak/El)

Tinggalkan Balasan