SEMARANG, beritajateng.tv – SMPN 12 Semarang melakukan pemantauan perkembangan siswa secara berkala pasca berlangsungnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala SMPN 12 Semarang, Rini Rusmiasih menjelaskan, pihaknya melakukan program pemantauan perkembangan siswa secara berkala. Hal itu untuk melihat dampak nyata dari makan gratis yang telah berlangsung dua bulan terakhir.
“Ini program inisiatif sekolah kami, kami ingin melihat perkembangan siswa supaya kami memiliki data real dampak MBG itu sendiri seperti apa, kami lakukan pemantauan berkala setiap bulan,” kata Rini kepada beritajateng.tv, Senin, 10 Maret 2025.
Rini mengatakan, program pemantauan perkembangan siswa sebenarnya sudah lama berlangsung di SMPN 12 Semarang. Hanya saja, program itu dulu berlangsung satu semester sekali yakni di akhir semester.
Kini, semenjak ada program MBG, pihak sekolah mencoba untuk lebih intens memantau perkembangan siswa. Pemantauan berlangsung satu bulan bulan sekali.
“Karena ada MBG kami mencoba untuk lebih cepat, setiap bulan kami pantau, dan kami kerja sama dengan Puskesmas Srondol untuk memberikan edukasi terkait MBG kepada siswa,” lanjutnya.
Cek berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar perut
Lebih lanjut, Rini menjelaskan bahwa pengecekan perkembangan dilakukan di sejumlah bagian tubuh. Mulai dari berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, hingga lingkar perut.
Rini menyebut, hasil pemantauan perkembangan siswa menunjukkan hasil yang baik. Mayoritas siswa mengalami pertumbuhan yang signifikan. Baik tinggi badan ataupun berat badan.
“Mungkin karena sedang masa pertumbuhan anak ditambah mendapat nutrisi sehingga perkembangannya semakin bisa maksimal. Pertumbuhannya terlihat sekali,” katanya.
Namun sayangnya, banyak siswa yang malah mengalami kelebihan berat badan. Rini menduga, asupan di luar MBG menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kelebihan berat badan pada siswa.
“Banyak anak obesitas. Mereka minum es teh jumbo yang kadar gulanya tinggi padahal nutrisi pada makanan nutrisinya udah baik. Sehingga ini anak-anak harus diberi edukasi terkait MBG. Anak harus bisa menyeleksi asupan makanan tambahannya,” paparnya.
BACA JUGA: Sebulan MBG, Banyak Siswa SD di Semarang Masih Ogah Makan Sayur Jadi Tantangan Sekolah
Ia berharap, program MBG yang sebenarnya bertujuan baik dapat terus memberikan dampak positif terhadap siswa. Dengan begitu, generasi emas Indonesia 2045 dapat terwujud.
“Supaya anak-anak tidak sekadar menikmati makan saja, tapi punya ilmu supaya makanan yang dikonsumsi sehat dan bergizi,” tandas Rini. (*)
Editor: Farah Nazila





