SEMARANG, beritajateng.tv – Perkoempoelan Boen Hian Tong kembali memperkuat peran spiritualitas sebagai media peringatan dan advokasi sosial melalui peletakan sinci ketiga untuk anak-anak korban kekerasan. Bertempat di Kawasan Pecinan Kota Semarang, peletakan sinci ketiga itu berawal dari doa bersama di depan pintu Boen Hian Tong.
Harumnya dupa yang mengiringi suara dari pukulan gong kecil membuat hening seisi ruangan Boen Hian Tong. Perwakilan peserta yang hadir berbaris rapi, berdoa, dan menancapkan dupa atau hio pada altar yang berisi sinci penghormatan untuk Angeline Megawe dan Christoper Butar-Butar.
Kali ini, sinci ketiga berwarna emas menjadi simbol penghormatan untuk anak-anak korban kekerasan. Dalam sinci tersebut tertera nama Angeline Megawe dan Christoper Butar-Butar.
BACA JUGA: Soroti Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Pelita Semarang: Banyak Terjadi di Lingkup Agama
Dua nama itu menjadi simbol penghormatan anak-anak korban kekerasan. Christoper Butar-Butar merupakan siswa SD di Riau yang meninggal karena bullying dari kakak kelasnya.
Sementara itu, Angeline Megawe adalah gadis cilik asal Denpasar, Bali, yang meninggal karena dianiaya oleh ibu tirinya.
Penghormatan Sinci Ketiga untuk Anak-anak Korban Kekerasan
Sebelumnya, dua sinci telah diletakkan sebagai penghormatan kepada tokoh pluralisme Kiai Haji Abdulrahman Wahid (Gus Dur) dan Ita Martadinata, korban tragedi Mei 1998.
Peletakan sinci ketiga menjadi momen penting untuk mengenang dan menyuarakan kepedulian terhadap anak-anak yang menjadi korban kekerasan, baik dalam rumah tangga maupun institusi pendidikan.
“Peletakan sinci ini bukan sekadar seremoni. Ini cara kami mengingatkan publik. Kekerasan terhadap anak masih terjadi di depan mata kita,” ujar Harjanto Halim, Ketua Perkoempoelan Boen Hian Tong dalam sambutannya pada Sabtu, 26 Juli 2025.
BACA JUGA: 41 Tahun Ratifikasi CEDAW, Doa Lintas Iman Hingga Desak Negara Lindungi Korban Kekerasan Seksual
Harjanto menyebut beberapa kasus yang menjadi alasan spiritual dan moral di balik peletakan sinci. Tragedi kekerasan terjadi pada anak-anak yang dilakukan orangtua bahkan teman-teman sebayanya.





