Jateng

Pembangunan Giant Sea Wall di Pantura Jawa Tengah Sepanjang 298 Km, Sayung Demak jadi Prioritas 

×

Pembangunan Giant Sea Wall di Pantura Jawa Tengah Sepanjang 298 Km, Sayung Demak jadi Prioritas 

Sebarkan artikel ini
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah, Yusmanto, saat dijumpai di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, belum lama ini. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah, Yusmanto, saat dijumpai di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, belum lama ini. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall di pesisir pantai utara (Pantura) Jawa Tengah rencananya membentang sekitar 298 kilometer, dari Kabupaten Brebes hingga Rembang.

Dalam rencana tersebut, wilayah Sayung, Kabupaten Demak, menjadi salah satu prioritas karena mengalami kerusakan pesisir cukup parah akibat abrasi.

Hal tersebut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah, Yusmanto, katakan, saat berjumpa di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, belum lama ini.

Dia mengatakan pembangunan Giant Sea Wall di Jateng merupakan bagian dari proyek pengamanan Pantura. Di mana rencananya membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, dengan panjang keseluruhan sekitar 575 kilometer.

Khusus di Jateng, berdasarkan perhitungan awal Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), panjangnya perkiraannya mencapai 298,47 kilometer.

Angka tersebut masih dapat berubah karena desain teknis proyek belum rampung.

“Kalau kemarin kami hitung-hitung kasar 298 km. Ada juga yang transisi ya. Jadi transisi itu maksudnya Giant Sea Wall tapi enggak sekadar Giant Sea Wall, tapi untuk menghubungkan antara pantai dengan laut, dengan muara. Itu beda lagi konstruksinya,” kata Yusmanto.

Dia berkata, rencana pembangunan Giant Sea Wall di Jateng mencakup lima segmen. Mulai dari Brebes, Tegal-Pemalang, Pekalongan-Batang, Kendal-Semarang-Demak, hingga Jepara-Pati-Rembang.

Dari sejumlah kawasan pesisir tersebut, Sayung menjadi salah satu wilayah yang usulannya menjadi prioritas.

Setelah Sayung, perhatian pembangunan diharapkan bergeser ke Pekalongan dan kawasan pesisir lain yang juga menghadapi persoalan abrasi.

Menurut Yusmanto, tingkat kerusakan pantai di Jateng tidak merata. Saat musim angin baratan atau penghujan, abrasi cukup parah terjadi di kawasan Brebes hingga Semarang dan Demak.

“Kalau Jawa Tengah, kami mengusulkan yang paling parah mungkin di Sayung. Kemudian nanti geser ke Pekalongan. Kemudian geser lagi wilayah ketiga itu yang antara Sayung dan Karangtengah, yang ke timur lagi sampai Surodadi, sampai Bonang,” katanya.

Meski demikian, penentuan lokasi, bentuk konstruksi, dan pembagian pekerjaan setiap segmen masih menunggu hasil perencanaan dari BOPPJ.