“Kita sepakat lembaga keagaman yang jadi utusan ada enam, sesuai dengan rujukan kepengurusan sebelumnya. Ada MUI, PGIW Jateng, Keuskupan Semarang, Walubi/Permabudhi, PHDI, dan Matakin. Mereka semua sepakat,” jelasnya.
Alasan tak ada perwakilan Ormas Islam di pengurus baru FKUB Jateng
Kepengurusan FKUB Jateng 2024-2029 kini beranggotakan 21 orang. Hal itu menjadi alasan yang Haerudin ungkap saat beritajateng.tv singgung soal perwakilan Ormas Islam.
Haeruddin menilai, Ormas Islam di Jateng jumlahnya banyak. Sehingga, tak memungkinkan baginya jika setiap Ormas Islam mengirimkan perwakilannya satu per satu.
“Kemarin kita juga diskusi apakah diwakili ormas Islam. Ormas Islam kita banyak sekali, maka kajiannya semua ormas terwakili di MUI,“ tegasnya.
Pihaknya pun mengaku meminta MUI untuk memerhatikan keterwakilan gender dalam pembentukan kepengurusan FKUB 2024-2029. Yang mana, akunya, keterwakilan gender itu merupakan usulan kepengurusan sebelumnya.
BACA JUGA: Menyongsong Tahun Politik, FKUB Larang Pemasangan Atribut Kampanye di Tempat Ibadah
“Surat kita ke MUI juga kita sampaikan agar memerhatikan kaderisasi dan keterwakilan gender, usulan pengurus lama itu. Maka di antara pengurus yang baru ini ada juga yang jadi pengurus sebelumnya,” bebernya.
Lebih lanjut, Haeruddin mengungkap Gerbang Watugong bukan anggota resmi dari FKUB.
Sehingga, bagi Haeruddin, pembentukan kepengurusan FKUB Jateng 2024-2029 ini tidak boleh hanya berpaku pada kepentingan Gerbang Watugong.
“Siapa pun pengurus FKUB, kami tetap menjembatani untuk kemudian bermitra. Karena Gerbang Watugong bukan anggota FKUB; selama ini kita bermitra memang iya. Watugong dilahirkan teman-teman FKUB, itu tidak masalah, semua ingin bangun kerukunan di Jateng,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi