“Kalau di sini (Indonesia dan Semarang) saya paham orang mungkin bukan karena nggak mau jalan kaki, tapi karena susah aksesnya,” ucapnya.
Dorong pemerintah terapkan kebijakan yang menjaga kesehatan warganya
Ia mencontohkan pemerintah Singapura. Menurut dr Sigid, Singapura menerapkan pajak kendaraan pribadi yang tinggi. Selain itu, mereka juga menyediakan transportasi masal yang terintegrasi.
Oleh karenanya, warga Singapura setiap harinya ‘terpaksa’ untuk jalan kaki. Hal tersebut yang kemudian memengaruhi gaya hidup sehat bagi warga Singapura.
Lalu, dr Sigid juga menyarankan penyediaan water station atau keran air minum di tempat publik.
“Misal di Simpang 5 ada beberapa titik yang kita bisa akses air putih, jadi kita tinggal bawa tumblr, minum air putih dari situ, bukan beli es teh jumbo atau kopi yang memiliki kandungan banyak gula,” katanya.
BACA JUGA: Awas! Ini Bahaya Konsumsi Es Teh Berlebihan saat Cuaca Panas, Bisa Timbulkan Penyakit Kronis
Ia menyebut jika penyakit gula merupakan masalah bersama. Jadi, penyelesaian harus bersama-sama berbagai sektor.
Tidak bisa hanya dengan memberikan kesadaran terhadap masyarakat untuk berolahraga, menjaga gaya hidup, ataupun konsumsi air putih. Akan tetapi juga memerlukan andil besar dengan penyediaan fasilitas oleh pemerintah.
“Tidak bisa kita hanya mengandalkan kesadaran masyarakat, masyarakat untuk sadar harus “dipaksa” oleh pemerintah dengan penyediaan fasilitas-fasilitas,” tukasnya. (*)
Editor: Farah Nazila