“Sementara belum. Tadinya memang di – setting lomba. Kita sudah merencanakan makan kerupuk, memasukkan pensil ke dalam botol, kemudian satu lagi adalah sendok kelereng. Namun kami tunda dulu sehubungan dengan judul acaranya,” jelas Ndandwiwik.
Pantun ‘Hong Wilaheng’ dan Harapan untuk Sudewo
Selain atribut merah putih dan rencana lomba, aksi APB juga terwarnai pembacaan pantun oleh sejumlah peserta, termasuk Ndandwiwik.
Ia menyebut pantun yang dibacakan mengangkat tema “Hong Wilaheng”. Menurutnya, istilah tersebut dimaknai sebagai doa sekaligus harapan di tengah proses hukum yang sedang dihadapi Sudewo.
“Temanya tadi Hong Wilaheng. Hong Wilaheng itu mengandung doa dan harapan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Dapat Bunga Usai Sidang, Sudewo: Doakan Saya Menjabat Bupati Lagi
Ndandwiwik mengatakan, sebagai pendukung dan loyalis Sudewo, pihaknya menilai mantan Bupati Pati tersebut tengah menghadapi perlakuan yang tidak adil.
“Dengan kondisi sekarang kita tahu bahwa menurut kami pendukung dan loyalis Bapak Sudewo, Pak Sudewo itu dizalimi, dipecundangi, direkayasa hukum, direkayasa politik seperti itu,” ujarnya.
“Tapi harapannya juga ada karena ini kita sudah merdeka, mestinya juga merdeka juga untuk Bapak Sudewo,” pungkasnya.
Sementara itu, di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Tipikor Semarang, sidang pemeriksaan saksi dengan terdakwa Bupati Pati nonaktif Sudewo sedang berlangsung. JPU KPK menghadirkan 6 saksi untuk membuktikan dugaan korupsi terkait pengisian perangkat desa. (*)
Editor: Farah Nazila





