PENGUSAHA di Indonesia tengah mengalami kecemasan yang begitu besar terhadap pengetatan impor yang akan dilakukan oleh pemerintah. Merek-merek terkenal seperti Zara, Louis Vuitton, Gucci, Chanel, Nike, Burberry, Dior, Uniqlo, Hugo Boss, dan Furla menyumbang sebagian besar pasar di Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Merek Global Indonesia (Apregindo), Handaka Santosa menegaskan, bahwa pemerintah seharusnya tidak menghambat masuknya barang impor yang bersumber dari merek-merek besar tersebut.
Jika kebijakan ini diterapkan, maka pasar atau konsumen dari brand besar tersebut akan mudah mencari opsi lain di luar negeri.
Pasar Indonesia sangat bergantung pada produk impor yang legal dan telah memenuhi persyaratan impor yang ditentukan oleh pemerintah, seperti bea masuk, ketetapan berbahasa Indonesia di label merek, dan ada keterangan negara asal barang.
Namun, dengan berbagai biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk memasukkan sejumlah merek ternama tersebut, maka bukan hal yang mengherankan jika harga produk tersebut di Indonesia lebih mahal dibandingkan di negara lainnya.
Menurut Handaka Santosa, pengetatan impor yang akan diterapkan pemerintah bisa menjadi ancaman bagi banyak pengusaha di Indonesia. Merek-merek besar yang biasanya dijual di Indonesia dapat jadi tidak dijual lagi. Konsumen akan kehilangan akses kepada produk-produk global yang berkualitas tinggi.
Selain itu, perusahaan-perusahaan lokal juga akan terkena dampaknya karena mereka tidak lagi dapat menjalin kerjasama dengan merek-merek global untuk memasarkan produk mereka.
Seiring dengan globalisasi dan perkembangan teknologi, pasar Indonesia menjadi lebih terbuka untuk produk-produk asing. Produk-produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat, mengingat kualitas dan desain produk tersebut yang menarik.
Dengan begitu, pengusaha di Indonesia harus bertarung dalam persaingan yang ketat. Tidak hanya melawan merek lokal, tetapi juga merek internasional yang telah melekat pada langganan masyarakat.





