SEMARANG, beritajateng.tv – Kisah ketekunan datang dari Supriyatun (63), penjual nasi sederhana di Pasar Mangkang, Kota Semarang. Selama 14 tahun, ia dan suaminya, Sutarno, konsisten menabung sedikit demi sedikit hingga akhirnya mendapat kesempatan berangkat haji pada 2026.
Di rumahnya di kawasan Mangkang, Supriyatun tampak beberapa kali membuka buku panduan ibadah haji. Tahun ini menjadi momen yang telah lama mereka tunggu setelah mendaftar sejak 2012.
“Saya sudah berjualan nasi selama 40 tahun. Menunya macam-macam ada soto, mangut, rames dan gorengan. Harganya juga murah, rames cuman Rp5.000, soto Rp6.000,” ucap Supriyatun baru-baru ini.
BACA JUGA: Hidupkan Ramadan, Masjid Al-Muhajirin Semarang Gelar Lapak Ngabuburit UMKM-Fasilitas Itikaf Musafir
Setiap hari sejak pukul 05.30 hingga 11.00 WIB, ia berjualan di Pasar Mangkang. Dari penghasilan sederhana itu, Supriyatun disiplin menyisihkan uang untuk tabungan haji melalui bank keliling.
“Setiap hari saya selalu menitipkan uang ke bank keliling untuk tabungan haji, kadang Rp10.000, kadang Rp20.000. Kalau ada kebutuhan mendesak, saya ambil sebagian dulu,” paparnya.
Selain hasil jualan nasi, tabungan haji juga berasal dari uang pensiun sang suami, yang merupakan mantan ASN di lingkungan Pemkot Semarang dan terakhir bertugas di Dinas Perdagangan. Meski sudah purna tugas, Sutarno tetap aktif bertani dan berternak.
Menjelang keberangkatan, pasangan ini mulai mempersiapkan diri, termasuk menjaga kondisi fisik. Setiap pagi, mereka rutin berjalan kaki di sekitar rumah. Supriyatun juga aktif mengikuti manasik haji di Islamic Center Semarang.
“Sudah setengah tahun saya sering mengikuti manasik haji setiap minggu di Islamic Center Semarang. Kondisi saya dan suami juga dinyatakan sehat oleh puskesmas,” paparnya.
Supriyatun dan suami dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 29 April 2026 bersama kloter 27. Keberangkatan mereka sempat tertunda dari jadwal awal pada 2023 akibat pandemi Covid-19.
Menariknya, Supriyatun juga menyiapkan bekal makanan khas rumahan untuk dibawa ke Mekkah, sebagai pengobat rindu selama menjalankan ibadah.





