SEMARANG, beritajateng.tv – Ramadan di Masjid Al-Muhajirin Palebon, Kota Semarang, tidak hanya diwarnai kegiatan ibadah. Halaman masjid ini juga menjelma ruang pemberdayaan ekonomi bagi pelaku UMKM yang memanfaatkan momen ngabuburit untuk berjualan takjil.
Setiap sore selepas salat Asar, puluhan pedagang mulai memenuhi area halaman masjid. Aneka menu berbuka seperti minuman segar, kolak, gorengan, hingga makanan khas Ramadan dijajakan kepada warga yang datang menunggu waktu berbuka.
Ketua Takmir Masjid Al-Muhajirin, Susilo, mengatakan bazar UMKM tersebut telah menjadi tradisi yang rutin berjalan setiap Ramadan.
BACA JUGA: Sema’an Al-Qur’an Masjid Kauman Semarang Jadi Ruang Hijrah Jamaah
“Bazar UMKM ini sudah beberapa tahun, jadi bukan yang pertama. Setiap Ramadan itu kami menyebutnya lapak ngabuburit dan peminatnya cukup banyak,” ujar Susilo
Menurutnya, keberadaan masjid seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas umat, termasuk kegiatan ekonomi.
“Setelah orang itu salat berjamaah di masjid, ekonominya juga harus kita tingkatkan agar mereka merasa nyaman. Saya ingin apa pun masalahnya, masjid bisa menjadi solusi,” paparnya.
Buka Puasa Gratis untuk Jamaah dan Pedagang di Masjid Al-Muhajirin Semarang
Selain menghadirkan bazar UMKM, pengurus Masjid Al-Muhajirin juga rutin menyediakan menu berbuka puasa bagi masyarakat. Setiap hari sekitar 150 porsi takjil disiapkan untuk jamaah yang berbuka di masjid.
Tak hanya itu, sebagian porsi juga dibagikan kepada para pedagang yang berjualan di sekitar area masjid.
“Khusus hari Minggu, kami menyiapkan porsi lebih banyak sekitar 300 porsi. Kegiatan lainnya selama Ramadan ada salat tarawih berjamaah, habis Subuh ngaji bareng, dan berbagai kajian,” jelasnya.
BACA JUGA: Beda Rakaat Bukan Penghalang, Muhammadiyah dan NU Tarawih Bareng di Masjid Sekayu Semarang
Masjid yang beralamat di Jalan Kauman Raya Nomor 10, Kelurahan Palebon, Kecamatan Pedurungan ini sebenarnya juga buka 24 jam. Di lantai dua tersedia ruang khusus bagi musafir yang ingin beristirahat.
Namun, selama Ramadan ruangan tersebut difungsikan sebagai tambahan tempat salat untuk menampung jamaah tarawih yang membludak. Sementara fasilitas menginap berpindah ke bagian belakang masjid untuk jamaah laki-laki, sedangkan jamaah perempuan dapat beristirahat di ruang Unit Kesehatan Masjid.
“Banyak musafir yang datang dari jauh pernah menginap di sini. Mudah-mudahan membawa maslahat dan manfaat bagi umat melalui masjid ini,” cetusnya.
Program Itikaf dan Sahur Bersama hingga Santunan Rutin bagi Warga Sekitar
Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Masjid Al-Muhajirin juga menyiapkan program khusus bagi jamaah yang ingin memperbanyak ibadah, terutama pada malam-malam ganjil yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.
Jamaah yang ingin melaksanakan itikaf boleh menginap di area yang telah pengurus masjid sediakan.
“Setiap malam ganjil kami juga menyediakan sahur untuk jamaah. Setelah itikaf, jamaah bisa ikut sahur bersama. Tapi untuk sahur ini kami membuka pendaftaran dulu supaya konsumsi yang kami siapkan sesuai jumlah peserta,” ujar Susilo.
BACA JUGA: Lezatnya Bubur India di Masjid Pekojan Semarang, Aroma Rempah Gurih Favorit Jamaah Saat Ramadan
Tak hanya fokus pada kegiatan ibadah Ramadan, Masjid Al-Muhajirin juga aktif menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat sekitar. Program santunan ini berlangusng secara rutin setiap bulan.
Bantuan tersalurkan kepada berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak yatim, dhuafa, hingga marbot masjid.
“Setiap sebulan sekali masjid juga menyalurkan bantuan kepada masyarakat sekitar. Total ada 43 orang penerima manfaat, mulai dari yatim piatu, dhuafa, hingga marbot,” tandasnya.
Melalui berbagai program tersebut, Masjid Al-Muhajirin menunjukkan peran masjid yang lebih luas, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kebersamaan, kepedulian sosial, dan penggerak ekonomi masyarakat selama Ramadan. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





