SEMARANG, beritajateng.tv – Bagi Ayunda Lisna Biantami, setiap perubahan kecil dari putranya menjadi tanda yang harus ia pahami. Bahkan ketika sang anak menangis atau sulit makan, Ayunda harus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang sang anak rasakan.
Ayunda, 34, merupakan ibu dari Elzio Zien Prasetya, anak berusia enam tahun sepuluh bulan yang bertempat tinggal di Genuksari, Semarang Timur.
Elzio mengalami cerebral palsy atau kondisi yang memengaruhi kemampuan gerak dan koordinasi tubuh. Kondisi anak yang Cerebral Palsy itu membuat Ayunda harus memberikan perhatian lebih dalam aktivitas sehari-hari, termasuk ketika makan dan minum.
Persoalan lain muncul dari kesehatan gigi Elzio. Sejumlah giginya ternyata mengalami kerusakan dan berlubang.
Kondisi tersebut membuat Elzio mengalami kesulitan ketika makan. Ia juga beberapa kali menangis, sehingga Ayunda sempat kesulitan mengetahui penyebabnya.
“Saya kira kadang dia menangis karena apa. Ternyata setelah di periksa, lubang giginya banyak,” ujar Ayunda saat mengikuti kegiatan bertajuk ‘Senyum Sehat untuk Anak Istimewa’ yang PT Pertamina Patra Niaga Regional JawaBagian Barat helat bersama IKA UNAIR di Semarang Barat, Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurut Ayunda, sebelumnya ia tetap berusaha menjaga kebersihan gigi Elzio dengan menyikat gigi secara rutin. Namun, ia mengaku baru mendapatkan pemahaman lebih mengenai cara menjaga kesehatan gigi anak dengan kondisi khusus.
Selama ini, Ayunda juga berusaha menyesuaikan makanan dengan kemampuan Elzio. Nasi dan lauk biasanya dibuat lebih lembut dan dipotong kecil agar lebih mudah dikonsumsi.
BACA JUGA: Pemkot Semarang Apresiasi Komitmen P3D Semar Cakep terhadap Disabilitas Cerebral Palsy
“Sehari-hari nasinya saya buat lembek. Lauknya juga saya cincang kecil-kecil. Tapi untuk mengunyah masih belum benar-benar mengunyah,” katanya.
Kondisi tersebut membuat proses makan membutuhkan waktu lebih lama. Ayunda harus memastikan makanan dapat masuk dan tidak membuat Elzio kesulitan.
Masalah yang dihadapi bukan hanya soal makanan. Elzio juga mengalami kesulitan ketika minum.
Ayunda harus memahami tanda-tanda yang diberikan anaknya ketika membutuhkan minum. Pada siang hari, ia relatif lebih mudah membaca kebiasaan Elzio.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada malam hari.
“Kalau siang saya tahu ini waktunya minum, waktunya makan. Kalau malam biasanya dia memberikan tanda dari suara. Berarti minta minum,” tutur Ayunda.
Kesulitan minum juga membuat asupan cairan Elzio harus mendapat perhatian. Ayunda berupaya memberikan minum secara perlahan dengan cara yang menurutnya paling aman.
Sebelumnya, Elzio juga pernah menggunakan selang nasogastrik atau NGT untuk membantu memenuhi kebutuhan asupan.
Ayunda mengingat kembali masa awal setelah kelahiran Elzio. Saat itu, anaknya membutuhkan perawatan di rumah sakit selama sekitar 10 hari.
“Waktu itu setelah lahir, dia di rawat sekitar sepuluh hari,” ujarnya.
Dalam perjalanan perawatannya, Elzio juga pernah mengalami pneumonia dan iritasi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap asupan cairan dan pemantauan kesehatan menjadi semakin penting.
Ayunda kemudian terus berusaha memberikan minum meski jumlahnya tidak selalu banyak. Ia juga memperhatikan respons tubuh dan perilaku anak setelah mendapatkan asupan.
Menurut dia, pemberian minum tidak bisa terlaksana sembarangan. Cara dan posisi ketika memberikan minum perlu ia sesuaikan dengan kondisi Elizu.
“Saya ingin tahu cara minumnya seperti apa, supaya tidak meluap dan bisa masuk dengan baik,” katanya.
Kondisi Elzio juga membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Salah satu yang menjadi perhatian adalah respons mata yang menurut Ayunda belum optimal.
BACA JUGA: NGO Australia-Bali Gandeng Dinas Sosial Jateng, Bagikan 340 Kursi Roda Gratis ke Pengidap Cerebral Palsy
Ayunda mengaku sempat membawa Elzio ke dokter spesialis mata. Namun, ia masih perlu mengetahui lebih jauh mengenai kondisi tersebut dan langkah yang harus dilakukan berikutnya.
Di tengah berbagai tantangan itu, Ayunda terus mendampingi perkembangan anaknya. Ia belajar mengenali suara, gerakan, hingga perubahan perilaku Elzio sebagai bentuk komunikasi sehari-hari.
Baginya, memahami kebutuhan anak menjadi bagian penting dalam merawat Elzio.
Termasuk ketika anak sulit makan. Masalah gigi yang sebelumnya tidak terlihat jelas ternyata dapat memengaruhi kenyamanan Elzio saat mengonsumsi makanan.
“Beberapa giginya saya kira hanya cokelat-cokelat. Ternyata setelah diperiksa, bagian dalamnya berlubang,” ujar Ayunda.
Kini, perawatan gigi menjadi salah satu kebutuhan yang harus segera diperhatikan. Bagi Ayunda, kesehatan gigi bukan persoalan kecil karena berhubungan langsung dengan kemampuan anak untuk makan.
Ia berharap pemeriksaan dan perawatan yang tepat dapat membantu Elzio makan lebih nyaman. Terutama bagi anak penderita Cerebral Palsy.
Perjalanan Ayunda juga menunjukkan bahwa merawat anak dengan cerebral palsy membutuhkan perhatian pada banyak aspek sekaligus. Bukan hanya terapi dan perkembangan motorik, tetapi juga kesehatan gigi, kemampuan makan, pola minum, hingga komunikasi nonverbal.
Setiap tanda yang Elzio berikan menjadi bahasa tersendiri bagi Ayunda.
Ia pun terus belajar agar kebutuhan anaknya dapat terpenuhi dengan lebih baik, meski proses tersebut tidak selalu mudah.
Bagi Ayunda, hal terpenting adalah memastikan Elzio tetap mendapatkan perawatan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Senyum Sehat untuk Anak Istimewa
Tak hanya Elzio, sebanyak 50 anak berkebutuhan khusus dan orang tuanya juga mendapatkan pemeriksaan dan edukasi kesehatan gigi di Paguyuban Peduli Penyandang Disabilitas (P3D) Semar Cakep.
Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 20 dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak. Jika di hitung bersama orang tua, total penerima manfaat mencapai 100 orang.
Layanan tidak sekadar pemeriksaan. Anak-anak mendapatkan edukasi cara menyikat gigi, praktik menyikat gigi yang benar, konsultasi kesehatan gigi dan mulut, hingga topikal aplikasi fluoride.
Para peserta juga memperoleh sikat gigi yang dapat digunakan untuk melanjutkan perawatan di rumah.
Bagi Pertamina, pendekatan langsung kepada anak dan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang lebih inklusif.
Edukasi kepada orang tua juga penting karena perawatan kesehatan gigi anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi salah satu cara perusahaan memperluas manfaat program sosial kepada kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya memberikan akses pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut. Ini juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarganya,” ujar Taufiq.
Menurut dia, kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara dunia usaha, tenaga kesehatan, akademisi, pemerintah, dan komunitas.
Program ini juga menjadi bagian dari GITA atau Gisikdrono Tangguh dan Berdaya: Kampung Inklusif Perkotaan.
Ini merupakan program binaan Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah melalui Aviation Fuel Terminal Ahmad Yani tersebut menyasar anak penyandang cerebral palsy dan keluarganya.
Pendekatan GITA tidak hanya menyentuh aspek kesehatan. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung kondisi sosial dan ekonomi penerima manfaat.
“Kami percaya menciptakan masyarakat yang inklusif membutuhkan sinergi berbagai pihak. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berkembang sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” kata Taufiq.
Sementara itu, Ketua IKA UNAIR Komisariat Fakultas Kedokteran Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak, drg. Satiti Kuntari, MS., SpKGA(K), mengatakan anak berkebutuhan khusus memiliki kebutuhan yang spesifik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
BACA JUGA: LPS Beri Bantuan Kaki Palsu dan Kursi Roda ke Penyandang Disabilitas
Karena itu, pendekatan pemeriksaan dan edukasi perlu di sesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Orang tua juga perlu mendapatkan pengetahuan yang cukup agar dapat melanjutkan perawatan di rumah.
“Kami ingin memberikan pemeriksaan, edukasi, serta pendampingan kepada anak. Sekaligus meningkatkan pengetahuan orang tua agar perawatan kesehatan gigi dapat berjalan secara tepat dan berkelanjutan di rumah,” ujar Satiti.
Ia menambahkan, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut juga menjadi ruang bagi dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak untuk memperluas akses layanan sekaligus mendorong pencegahan masalah kesehatan gigi sejak dini.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari P3D Semar Cakep. Ketua P3D Semar Cakep, Fitri Maryunani, menilai layanan kesehatan dengan pendekatan khusus sangat berarti bagi anak dan orang tua yang berada dalam pendampingan komunitas.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan pengalaman dan manfaat yang berarti bagi anak-anak serta orang tua. Anak-anak mendapatkan pemeriksaan sekaligus edukasi dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Fitri.
Menurutnya, keberlanjutan program menjadi hal yang penting agar pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus tidak berhenti pada satu kegiatan. (*)





