Pendidikan

Perkuat Mental Generasi Muda, Siswa Diajari Soft dan Hard Skill Lewat Gelar Karya P5

×

Perkuat Mental Generasi Muda, Siswa Diajari Soft dan Hard Skill Lewat Gelar Karya P5

Sebarkan artikel ini
Siswa P5
SDN Sarirejo Kartini saat menggelar Gelar Karya P5, Rabu, 18 Desember 2024. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) disebut dapat melatih mental generasi muda. Dengan program P5, siswa akan belajar hal-hal di luar akademik, seperti kemampuan hard skill maupun soft skill.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Erwan Rachmat, mengatakan bahwa perkembangan zaman menuntut generasi muda untuk dapat menguasai kemampuan hard skill maupun soft skill. Kedua hal itu, kata dia, telah terimplementasikan dengan baik dalam P5 yang selama ini berjalan.

“Untuk hard skill dan soft skill, kami sudah merujuk P5 yang sudah mengarahkan di dua hal itu. Misalnya hard skill belajar soal AI (artificial intelligence) dan soft skill belajar interpersonal,” kata Erwan saat beritajateng.tv hubungi, Kamis, 13 Februari 2025.

Erwan merincikan, kemampuan hard skill berarti siswa belajar tentang ilmu pengetahuan. Dalam P5 misalnya, siswa bebas membuat proyek yang berhubungan dengan teknologi.

BACA JUGA: Gelar Karya P5, Ratusan Siswa SMAN 11 Semarang Hadirkan Flashmob Tari Kreasi Sendiri

Sementara kemampuan soft skill akan mengajarkan siswa soal hal-hal nonteknis seperti hubungan interpersonal siswa untuk berkomunikasi dengan orang lain; baik itu kepada teman sebaya, guru, orang tua, hingga masyarakat.

Dengan begitu, lanjut Erwan, siswa dapat terjun berkehidupan di masyarakat dengan modal mental generasi anak muda yang kuat.

“Ini menjadi hal yang diramu dalam satu holistik sehingga kemampuan siswa itu menjadi bagus dan harapannya output-nya mereka memiliki logika berpikir, pendidikan karakter, dan estetika (keindahan),” jelasnya.

Pembelajaran lebih mendalam dan menggembirakan

Lebih lanjut, Erwan mengatakan P5 telah membawa banyak perubahan dalam metode pembelajaran di sekolah. Sebelum adanya P5, sistem pendidikan lebih banyak mementingkan materi pembelajaran dalam bentuk hafalan akademik.

Namun, setelah adanya P5, metode pembelajaran mengalami perubahan sehingga pengajar atau guru dapat lebih fokus membangun literasi dan numerik pada siswa.

“Pembelajaran kepada siswa saat ini juga jauh lebih mendalam dan menggembirakan, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih bermakna,” kata dia.