Sementara itu, sejumlah rumah potong ayam bahkan menjual ayam karkas hingga Rp26.000 per kilogram demi mempertahankan daya saing.
Menurutnya, pola pengadaan yang lebih menitikberatkan pada harga termurah membuat peternak rakyat sulit bersaing dalam rantai pasok program MBG.
“Kalau mekanismenya masih siapa yang paling murah yang jadi pilihan, tentu kami akan kalah. Realitanya, yang bermain lebih banyak pihak ketiga atau middleman, bukan peternak rakyat anggota Pinsar,” tegasnya.
Karena itu, Mukhlis menilai program MBG saat ini belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan usaha peternakan rakyat, meskipun memiliki potensi besar untuk menyerap produksi dalam negeri.
Sementara itu, Ketua Pinsar Jawa Timur, Kholik, mengakui keberadaan program MBG tetap memberikan dampak positif terhadap stabilisasi harga ayam di tengah kondisi overpopulasi.
BACA JUGA: Ribuan Dapur MBG Setop, BGN Tegaskan Tak Ada Kompromi Soal Standar
Menurutnya, tanpa adanya tambahan penyerapan dari program MBG, harga ayam hidup di tingkat peternak berpotensi jatuh lebih dalam lagi.
“Kalau tidak ada penyerapan dari MBG, bukan tidak mungkin harga bisa turun hingga Rp8.000 per kilogram. Jadi, meskipun belum optimal, program ini tetap sedikit banyak membantu,” katanya. (*)
Editor: Farah Nazila





