Ia mengatakan pembangunan hubungan tersebut sengaja dalam waktu cukup lama. Sebab, kata Himawan, tujuan utama para pelaku bukan meminta uang secara langsung, melainkan mengarahkan korban melakukan investasi.
“Karena ini yang harapannya adalah si korban itu bisa melakukan investasi. Jadi bukan hanya diminta uangnya, tapi dia diminta investasi,” jelasnya.
Korban Minta Video Call, Pelaku Pakai Selebgram sebagai Model
Untuk semakin meyakinkan korban, sindikat tersebut menyiapkan model asli saat korban meminta panggilan video. Himawan mengungkap model yang digunakan merupakan WNI.
“Nah, pada saat video call si modelnya itu ditampilkan. Jadi seolah-olah benar,” ujarnya.
Saat awak media menanyakan identitas model tersebut, Himawan menyebut model yang digunakan merupakan sosok yang cukup dikenal publik.
“WNI, selebgram terkenal,” jawab Himawan singkat.
Ia menambahkan, tampilan model tersebut membuat korban semakin percaya sehingga bersedia menanamkan dana ke situs investasi kripto yang sebenarnya telah jaringan pelaku manipulasi.
“Sehingga orang itu percaya dan dia mau memberikan investasinya ke website yang sudah pelaku buat, seolah-olah website itu adalah website investasi,” tutur Himawan.
Polda Jateng Jelaskan Perbedaan Love Scamming dan Pig Butchering
Dalam kesempatan itu, Himawan menegaskan modus yang sindikat gunakan berbeda dengan love scamming yang selama ini lebih masyarakat kenal.
Menurut keterangannya, love scamming umumnya berujung pada permintaan uang secara langsung untuk kepentingan pribadi pelaku.
Sementara pada pig butchering, kata Himawan, pelaku membangun hubungan emosional untuk mengarahkan korban menanamkan uang pada investasi palsu yang telah jaringan siapkan.
“Kalau love scamming beda, kalau ini Pig Butchering. Itu adalah asmara dan investasi. Kalau love scamming itu saya kenal habis itu saya minta buat saya, kalau ini buat investasi. Dia tidak ada keuntungan buat dia. Keuntungan buat perusahaan,” tandas Himawan.





