Hukum & Kriminal

Polda Jateng Bongkar Sindikat Pig Butchering, Pakai Tinder dan Selebgram Terkenal Buat Tipu Korban WNA

×

Polda Jateng Bongkar Sindikat Pig Butchering, Pakai Tinder dan Selebgram Terkenal Buat Tipu Korban WNA

Sebarkan artikel ini
polda jateng
Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih, saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Ditreskrimum Polda Jawa Tengah, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jumat, 22 Mei 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah membongkar modus penipuan online internasional bertajuk pig butchering yang memanfaatkan aplikasi kencan hingga video call menggunakan model perempuan untuk memperdaya korban.

Dalam perkara tersebut, Polda Jawa Tengah mengamankan 38 pelaku yang terdiri dari warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA).

Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih, mengatakan sindikat tersebut melibatkan 11 WNA yang terdiri dari tujuh warga negara Nepal dan empat warga negara Myanmar. Sementara sisanya merupakan WNI.

Hal itu Himawan ungkap saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Ditreskrimum Polda Jawa Tengah, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jumat, 22 Mei 2026 sore.

“Jadi ini merupakan sindikat internasional yang kami ungkap, yang mana melibatkan warga negara asing yaitu sejumlah 11 orang. Dari hasil pengungkapan, kita berhasil mengamankan 38 orang,” ujar Himawan.

BACA JUGA: Dukun Cabul Ashari Sudah Pindah ke Rutan Polda Jateng, Ahli Agama dan Pidana jadi Saksi

Ia menuturkan, para pelaku memiliki peran berbeda dalam jaringan tersebut, mulai dari marketing, leader, hingga model.

“Peran-peran mereka adalah sebagai marketing dan sebagai leader. Ya, termasuk ada satu sebagai model,” imbuhnya.

Pelaku Pakai Aplikasi Tinder dan Boo, Laki-laki Menyamar Jadi Perempuan

Himawan menjelaskan, sindikat tersebut menjalankan aksinya dengan mencari korban melalui sejumlah aplikasi perkenalan seperti Tinder maupun Boo.

Pada tahap awal, kata dia, pelaku akan membangun komunikasi dengan korban menggunakan identitas palsu.

Pelaku bahkan menggunakan foto perempuan untuk menarik perhatian korban, meski operator yang menjalankan akun tersebut sebenarnya laki-laki.

“Jadi, bisa saja dia laki-laki yang menyamar wanita. Dia menyamar jadi wanita. Jadi dia fotonya pakai foto wanita,” katanya.

Setelah perkenalan berlangsung, pelaku kemudian terus membangun kedekatan emosional dengan korban melalui percakapan intensif.

“Dia melakukan perkenalan, kemudian dia berusaha untuk merayu korbannya. Nanti hubungan selanjutnya lewat WA,” sambung Himawan.