Polres Demak Ungkap Bisnis Uang Palsu Antar Wilayah Dibalik Kasus Pembunuhan

Polres Demak Ungkap Bisnis Uang Palsu Antar Wilayah Dibalik Kasus Pembunuhan

” AKBP Budi Adhy Buono mengaku pengungkapan pembunuhan dan pembuatan uang palsu merupakan pengungkapan kasus terbesar di Polres Demak “

Demak, 29/12 ( BeritaJateng.tv ) – Jajaran Satreskrim Polres Demak, berhasil mengungkap jaringan sindikat pembuat dan pengedar uang palsu antar wilayah di Indonesia. Tujuh pelaku yang memproduksi dan mengedarkan uang palsu tersebut, yakni, Nasirun (33), Saerofi (30), Khoriul Anwar (24), Rifqi Rosadi (24), warga Demak, Wono Khoirun (35) dan Slamet Timbul (35), warga Kendal, serta Sowijoyo (24) warga Pasuruan Jawa Timur.

Menurut Kapolres Demak, AKBP Budi Adhy Buono, menjelaskan bahwa pengungkapan sindikat pembuat dan pengedar uang palsu ini terbongkar dari pengembangan kasus penganiayaan dan pembunuhan seorang balita beberapa waktu lalu.

“ saat olah TKP dilokasi kontraan, Kami temukan sejumlah alat percetakan yang awalnya mereka akui alat – alat itu untuk mencetak undangan. Namun, dalam penyidikan yang dilakukan reskrim, Kami temukan adanya bisnis pembuatan dan peredaran uang palsu. Tiga pelaku lain, yakni Wono Khoirun, Slamet Timbul dan Sowijoyo, berhasil kami tangkap di Kabupaten Kendal,” terang Kapolres Demak.

Dari pengakuan para komplotan tersebut sudah menjalankan bisnis haramnya dalam kurun satu tahun, di sebuah rumah kontraan di Jalan Sultan Hadiwijaya, Kelurahan Mangunjiwan, yang notabene tempat terjadinya kasus penganiayaan Farid Efendi dan mengakibatkan anak Farid terbunuh.

” Kami masih dalami keterlibatan Farid Efendi yang merupakan korban dan juga ayah balita yang tewas dibunuh empat pelaku ini,” tutur AKBP Budi Adhy Buono.

Dalam aksinya, para pelaku ini membagi tugas dalam pembuatan dan peredaran uang palsu yang diketahui telah diedarkan ke sejumlah daerah di Jawa Tengah.

” Sindikat ini berada di dua lokasi, yakni di Demak dan Kendal. Semua transaksi dan pembagian tugas dilakukan oleh pelaku yang ada di Demak. Modus mengedarkannya melalui medsos. Begitu dapat pesanan, mereka (pelaku) cetak, dan mengirimkan melalui jasa pengiriman. Selama satu tahun ini, sudah ada 600 juta rupiah lebih yang mereka cetak dan edarkan,” kata Kapolres Demak.

Sementara itu, menurut keterangan pelaku sekaligus otak bisnis uang palsu, Nasirun, bahwa dirinya mengaku pembuatan uang palsu didapat dari temannya saat mendekam di rutan demak beberapa tahun yang lalu.

” Selama di rutan, diajari cara membuat uang palsu, termasuk bahan bahan yang digunakan. Dari bisnis uang palsu ini, kita mendapat keuntungan total sekitar 100 juta rupiah,” ujar Nasirun.

Selain berhasil menangkap para pelaku, petugas juga berhasil mengamankan peralatan cetak, printer, satu set computer, puluhan lembar bukti pengiriman, dan puluhan lembar uang palsu yang sudah dicetak. Atas perbuatannya, ketujuh pelaku dijerat Pasal 36 Undang Undang RI nomor 7 tentang Mata Uang, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (BW)

Leave a Reply

Your email address will not be published.