“Ya, untuk awal-awal pasti harus kami jaga terus ya. Kemudian rencana kami memang ada pos permanen supaya pengawasan lebih maksimal,” jelasnya.
Danang mengakui jika jalan Prof Hamka ini merupakan jalur favorit dan jadi alternatif menuju ke kota lain, seperti Boja, Kendal dan Ungaran.
“Makanya akan kami pastikan bahwa kendaraan-kendaraan yang mau naik nanjak itu harus laik jalan. Nah, nanti akan ada pengawasan intens di sini maupun yang dari atas,” ujarnya.
“Nantinya kami bangun pos yang permanen. Kasihan rekan-rekan untuk berjaga kalau lokasinya itu kurang nyaman,” sebutnya.
Pengawasan juga di dukung kamera CCTV dan sistem penghitungan kendaraan untuk memantau volume lalu lintas berdasarkan jenis dan waktu. Data tersebut akan menjadi dasar evaluasi kebijakan ke depan.
“Kalau portal yang di Jrakah ini sudah ada (CCTV). Kemudian yang di atas itu sudah kita tarik fiber optiknya. Nanti pastinya di dua lokasi ini selain ada pengawasan CCTV kita juga mau meng-counting,” kata Danang.
Meng-counting itu maksudnya, lanjut dia, menghitung jumlah kendaraan yang melewati area tersebut, menghitung keramaian, dan menganalisis jam jam padat.
Bus Pariwisata Cari Jalur Alternatif
Danang menyebut, untuk bis pariwisata karena memang ketinggiannya melebihi batas maksimal portal Jrakah. Maka harus mencari jalan alternatif lain untuk menuju area atas.
“Kalau bis besar (pariwisata) itu ya enggak bisa. Silakan cari jalan lain. Solusinya cari jalan alternatif,” kata Danang.
Solusinya, lanjut dia, ada dua yakni cari jalur alternatif lainnya dulu atau memang mereka (bus pariwisata) harus menunggu jam selesai larangan agar portalnya naik.
Kendaraan Darurat dan Truk BBM Tetap Bisa Melintas
Danang menambahkan, kendaraan darurat seperti pengangkut oksigen atau bahan bakar tetap bisa melintas dengan koordinasi khusus.
“Pastinya akan ada pertimbangan khusus lah ya. Untuk oksigen yang ke rumah sakit itu kan kalau memang genting. Kemudian BBM ada beberapa pom bensin di atas. Harapannya sih memang harus sesuai jam yang kami izinkan,” kata dia.





