SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Perhubungan Kota Semarang kembali memasang portal pembatas kendaraan bertonase besar di simpang Jrakah, Ngaliyan, Kota Semarang, Selasa malam, 28 April 2026.
Pemasangan portal di Jrakah ini merupakan upaya Dinas Perhubungan mencegah kecelakaan truk bertonase besar agar tidak melintasi Jalur Silayur di luar jam operasional.
Pada pukul 06.00 hingga 22.59 WIB, portal diturunkan hingga ketinggian 3,4 meter untuk mencegah truk besar masuk ke jalur Silayur.
Sementara pada pukul 23.00 hingga 05.00 WIB, portal akan naik hingga 4,2 meter sehingga kendaraan berat masih dapat melintas sesuai ketentuan.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengatakan pemasangan portal di Jrakah ini merupakan tindak lanjut pemasangan portal pertama di area atas sebelum turunan Silayur.
BACA JUGA: Portal Resmi Dipasang Dishub, Halau Truk Besar Lewat Silayur saat Jam Larangan
“Portal di atas sudah beroperasi dua hari lalu. Sekarang kami pasang di sisi bawah, tepatnya di traffic light Jrakah, untuk menghalau kendaraan besar yang melanggar jam operasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, portal ini pihaknya rancang dengan ketinggian 3,4 meter untuk membatasi kendaraan berat melintas pada jam larangan.
“Tujuannya jelas, mencegah kecelakaan akibat truk bertonase besar yang nekat melintas di jalur Silayur,” katanya.
Menurut Danang, rambu larangan sebenarnya sudah lama terpasang di sejumlah titik, baik dari arah bawah maupun atas. Namun, masih ada pengemudi yang melanggar aturan.
“Rambu sudah ada, peringatan juga jelas. Tinggal kesadaran pengemudi. Jangan coba-coba melanggar atau mencari celah,” tegasnya.
Bagi kendaraan besar yang terlanjur masuk kawasan tersebut, ia meminta pengemudi mencari jalur alternatif.
Kondisi di sekitar lokasi tidak memungkinkan untuk putar balik, sehingga kendaraan harus mundur jika melanggar batas portal.
Pihaknya juga berencana menempatkan petugas di lapangan untuk pengawasan intensif, terutama pada masa awal penerapan.
Selain itu, dinas juga bakal membangun pos pengawasan permanen agar pengendalian lalu lintas lebih optimal.
“Ya, untuk awal-awal pasti harus kami jaga terus ya. Kemudian rencana kami memang ada pos permanen supaya pengawasan lebih maksimal,” jelasnya.
Danang mengakui jika jalan Prof Hamka ini merupakan jalur favorit dan jadi alternatif menuju ke kota lain, seperti Boja, Kendal dan Ungaran.
“Makanya akan kami pastikan bahwa kendaraan-kendaraan yang mau naik nanjak itu harus laik jalan. Nah, nanti akan ada pengawasan intens di sini maupun yang dari atas,” ujarnya.
“Nantinya kami bangun pos yang permanen. Kasihan rekan-rekan untuk berjaga kalau lokasinya itu kurang nyaman,” sebutnya.
Pengawasan juga di dukung kamera CCTV dan sistem penghitungan kendaraan untuk memantau volume lalu lintas berdasarkan jenis dan waktu. Data tersebut akan menjadi dasar evaluasi kebijakan ke depan.
“Kalau portal yang di Jrakah ini sudah ada (CCTV). Kemudian yang di atas itu sudah kita tarik fiber optiknya. Nanti pastinya di dua lokasi ini selain ada pengawasan CCTV kita juga mau meng-counting,” kata Danang.
Meng-counting itu maksudnya, lanjut dia, menghitung jumlah kendaraan yang melewati area tersebut, menghitung keramaian, dan menganalisis jam jam padat.
Bus Pariwisata Cari Jalur Alternatif
Danang menyebut, untuk bis pariwisata karena memang ketinggiannya melebihi batas maksimal portal Jrakah. Maka harus mencari jalan alternatif lain untuk menuju area atas.
“Kalau bis besar (pariwisata) itu ya enggak bisa. Silakan cari jalan lain. Solusinya cari jalan alternatif,” kata Danang.
Solusinya, lanjut dia, ada dua yakni cari jalur alternatif lainnya dulu atau memang mereka (bus pariwisata) harus menunggu jam selesai larangan agar portalnya naik.
Kendaraan Darurat dan Truk BBM Tetap Bisa Melintas
Danang menambahkan, kendaraan darurat seperti pengangkut oksigen atau bahan bakar tetap bisa melintas dengan koordinasi khusus.
“Pastinya akan ada pertimbangan khusus lah ya. Untuk oksigen yang ke rumah sakit itu kan kalau memang genting. Kemudian BBM ada beberapa pom bensin di atas. Harapannya sih memang harus sesuai jam yang kami izinkan,” kata dia.
“Untuk kondisi darurat tentu ada pengecualian, tapi tetap harus koordinasi dan mempertimbangkan keselamatan,” ujarnya.
Ia menegaskan portal di Jrakah langsung difungsikan sejak pemasangan selesai. Pihaknya berharap dengan pemasangan portal ini mampu menekan angka kecelakaan sekaligus meningkatkan disiplin pengendara di jalur Silayur, Ngaliyan. (*)





