Prof Sri Puryono Resmi Jabat Ketua Ikal Lemhannas Jateng 2022-2027

Ketua Umum IKAL Lemhanas Agum Gumelar, Plt Walikota Semarang Hevearita G. Rahayu dan Ketua terpilih IKAL Lemhanas Jateng Sri Puryono. /Foto: Ellya.

SEMARANG, 31/10 (BeritaJateng.tv) – Prof Dr Ir Sri Puryono Karto Sodarmo MP terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni (IKAL) Lemhannas Jawa Tengah Periode 2022-2027 secara aklamasi dalam Musda yang digelar Sabtu (29/10/2022) di Patra Hotel Semarang.

Dengan terpilihnya Prof Dr Ir Sri Puryono Karto Soedarmo MP maka ini merupakan kepemimpinan kedua mantan Sekda Provinsi Jateng ini di Ikal Lemhannas Jawa Tengah.

Sri Puryono menyampaikan dengan terpilihnya kembali memimpin Ikal Lemhannas Jawa Tengah, maka akan segera melaksanakan apa yang menjadi arahan Ketua Umum Ikal Lemhannas, Jenderal TNI Purn Agum Gumelar. Ikal Lemhannas adalah mitra pemerintah yang akan memberi sumbang pikiran dalam mengawal program pemerintah.

“Jadi kita akan selalu memberi sumbangan pemikiran yang bisa mejadi dasar atau pertimbangan dalam memgambil kebijakan. Termaauk dalam menghadapi tantangan ke depan di bidang pangan, kami diminta oleh Kerum agar segera membentuk Krisis Center di tingkat Provinsi. Hal ini untuk mempercepat dan mendekatkan dengan pemerintah daerah,” ungkap Sri Puryono.

Sri Puryono mengatakan DPD IKAL Jateng akan membentuk gugus tugas untuk membantu pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan-kebijakan strategis di antaranya yang berkaitan dengan pangan, energi, dan air.

“Kami akan melakukan analisis ⁷kebijakan dan memberikan masukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” kata Sri Puryono yang juga mengapresiasi Pemprov Jateng terkait penanganan COVID-19.

Sementara Agum Gumelar kepada awak media usai membuka Musda menegaskan kembali komitmen Ikal Lemhannas yang tetap akan menjadi mitra dan bersinergi dengan pemerintah.

Agum juga menyatakan Ikal Lemhannas juga siap mengawal pelaksanaan Pemilu 2024 dan mengajak seluruh pihak belajar dari Pemilu 2019 agar lebih baik dan tidak terulang terjadinya polarisasi, bentrokan horisontal antarpendukung calon presiden, dan tidak adanya keberpihakan penyelenggara pemilu pada salah satu calon.

“Jika tidak mau belajar dari Pemilu 2019 bisa mengkhawatirkan. Diperlukan edukasi pada tiga unsur yang berperan penting dalam pemilu yakni partai politik karena dia yang melakukan kaderisasi dan rekrutmen. Kedua KPU sebagai penyelenggara pemilu harapannya bisa lebih profesional dan ketiga rakyat sebagai pemilih harus lebih dewasa,” kata Agum.

Agum mengatakan IKAL merupakan katalisator bagi keutuhan bangsa dan membantu kebijakan yang diambil pemerintah. Keberadaannya yang tidak hanya di tingkat pusat (DPP), tetapi ada juga di 34 provinsi se-Indonesia (DPD) diharapkan bisa berkontribusi maksimal.

“Dimana pun IKAL berada, jadilah ujung tombak yang merajut kembali persatuan. Harus jadi garda terdepan dalam mengawal bangsa ini menuju tujuan dan cita-cita nasional. IKAL harus berwatak pejuang dan peduli,” kata Agum.  (Ak/El)

 

Leave a Reply