SEMARANG, beritajateng.tv – Isu child grooming menjadi sorotan publik setelah viralnya memoar Broken Strings karya aktris dan penyanyi Aurélie Moeremans. Di Jawa Tengah, perbincangan soal child grooming kian menguat pascakasus seorang trainer gym asal Kabupaten Semarang yang mendekati dan melakukan pelecehan terhadap anak di bawah umur.
Maraknya perbincangan tersebut memantik perhatian kalangan akademisi. Psikolog Universitas Diponegoro (Undip), Amalia Rahmandani, menilai child grooming bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkaitan erat dengan kerentanan psikologis anak dan ketimpangan relasi dengan orang dewasa.
Amalia menjelaskan, anak-anak dan remaja awal merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban grooming karena masih berada dalam tahap perkembangan identitas diri.
“Kalau kita bicara faktor risiko, pertama-tama ada pada periode kanak-kanak itu sendiri. Dari sisi usia dan tahap perkembangan, anak-anak hingga remaja ini belum memiliki identitas diri yang stabil,” ujar Amalia saat beritajateng.tv hubungi via WhatsApp, Minggu, 18 Januari 2025.
BACA JUGA: Apa itu Child Grooming? Viral Lewat Kisah Masa Lalu Aurelie Moeremans
Menurutnya, pada fase tersebut, kapasitas kognitif anak belum cukup matang untuk menilai risiko dalam relasi sosial yang dibangun.
“Secara kognitif, kemampuan untuk menilai bahwa ada kondisi berisiko dalam relasi itu belum matang. Kemampuan menilai risiko itu masih kurang,” katanya.
Selain itu, kata Amalia, kebutuhan emosional anak pada fase tersebut juga cenderung tinggi. “Kebutuhan afeksi, kebutuhan untuk diakui, itu tinggi. Sementara secara emosional, anak-anak ini juga belum stabil,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Amalia, membuat anak lebih mudah terpengaruh oleh rayuan orang dewasa, terlebih jika relasi tersebut dibangun secara perlahan dan manipulatif.
Ketimpangan Relasi Usia dan Kuasa jadi Celah Grooming
Amalia menegaskan, dalam kasus child grooming, pelaku umumnya merupakan orang dewasa yang memiliki posisi dominan daripada anak.
“Relasi kuasa dan ketimpangan usia itu tidak terpungkiri. Pelaku adalah figur dewasa, lebih berpengalaman, lebih dominan,” ujarnya.
Ketimpangan tersebut membuat anak berada pada posisi yang tidak berdaya. “Secara usia dia masih muda, secara psikologis belum matang, dan secara relasional dia masih belajar membangun relasi yang sehat. Itu sebabnya anak menjadi rentan,” katanya.
Dalam situasi tersebut, anak kerap belum memiliki pemahaman yang utuh tentang relasi sehat.
BACA JUGA: Heboh Ibu Muda 7 Anak Bersuami Dukun Pijat, Korban Child Grooming?
“Ketika dia sedang belajar memahami relasi sehat itu seperti apa, lalu masuk figur dewasa yang manipulatif. Apalagi jika anak punya pengalaman relasi yang kurang suportif di keluarga, maka pemahaman tentang relasi bisa bergeser tanpa sadar,” ujar Amalia.
Ia menekankan, penguatan pemahaman mengenai relasi sehat menjadi salah satu kunci pencegahan child grooming. “Pemahaman mengenai relasi dan kejadian grooming ini perlu lebih kuat untuk mencegah terjadinya grooming,” tegasnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai usia matang bagi anak perempuan untuk menjalin hubungan, Amalia menilai kematangan tidak bisa diukur semata dari usia.
“Kita perlu pahami dulu, matang atau tidak matang itu berproses seiring usia. Penting untuk mempertimbangkan apa karakteristik perkembangan pada tahap-tahap usia tertentu,” katanya.
Usia Proses Penguatan Kapasitas Kognitif dan Emosional
Menurutnya, baik anak-anak maupun remaja masih berada dalam proses penguatan kapasitas kognitif dan emosional.
“Bahkan remaja sekalipun itu masih dalam proses menguatkan kemampuan pemikiran dan pemahaman mengenai relasi sehat. Secara emosional pun masih labil,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketertarikan terhadap lawan jenis umumnya mulai muncul saat memasuki masa pubertas, namun pemaknaan terhadap relasi sering kali belum matang.
“Pada usia yang lebih muda, relasi dengan teman sebaya cenderung lebih dominan. Ketika memasuki remaja, mulai muncul ketertarikan romantis terhadap orang lain,” jelasnya.
Amalia menegaskan, jika yang dimaksud matang adalah mampu membangun relasi yang sehat, maka edukasi menjadi faktor penting.
BACA JUGA: Aurelie Moeremans: Fakta Grooming, Karier, dan Perjalanan Hidup Bersama Mantan
“Kalau kita bicara relasi sehat, maka pertanyaannya bukan hanya umur berapa, tapi sejauh mana anak sudah diedukasi tentang relasi sehat dan tidak sehat,” katanya.
Lebih jauh, Amalia menyoroti kerentanan anak yang berkaitan dengan relasi pengasuhan yang tidak suportif dengan figur pengasuh utama.
“Yang diharapkan dari seorang anak itu adalah kasih sayang atau kelekatan emosional yang aman dengan figur pengasuhnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerentanan dapat muncul dari pola pengasuhan yang berulang kali mengabaikan kebutuhan anak.
“Ketika anak berulang kali merasa diabaikan, tidak diberikan perhatian, baik secara emosional seperti dalam komunikasi sehari-hari, secara fisik, kesehatan, maupun pendidikan,” jelasnya.
Kekerasan Emosinal atau Psikologis
Menurut Amalia, kerentanan tidak hanya muncul dari pengabaian, tetapi juga dari bentuk kekerasan.
“Kekerasan itu tidak hanya fisik, tapi juga bisa emosional atau psikologis. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi di rumah, anak berharap kebutuhannya bisa terpenuhi di luar lingkup keluarga. Saat bertemu pelaku, risikonya menjadi lebih besar,” ujarnya.
Namun, Amalia menegaskan, child grooming tidak hanya terjadi pada anak yang berasal dari keluarga dengan relasi pengasuhan yang bermasalah.
“Terlepas dari relasi keluarga yang cukup baik, paparan pelaku yang intens dan berkesinambungan juga bisa menjauhkan kedekatan antara anak dan pengasuhnya,” katanya.
Menurutnya, manipulasi yang pelaku lakukan secara terus-menerus juga dapat menggoyahkan pondasi relasi yang sebelumnya sudah terbentuk.
BACA JUGA: Broken Strings, Memoar Aurelie Moeremans yang Menguak Luka Grooming dan Trauma Masa Muda
“Ada kebingungan, ada romantisasi relasi, kecintaan terhadap pelaku, yang akhirnya membuat relasi anak dengan figur pengasuhnya menjadi renggang,” jelasnya.
Ia menyimpulkan, terdapat dua jalur utama yang meningkatkan kerentanan anak terhadap child grooming.
“Yang pertama, rentan karena relasi pengasuhan memang kurang suportif. Yang kedua, karena paparan manipulatif dari pelaku yang intens dan berlangsung lama, meskipun relasi keluarga awalnya cukup baik,” ujar Amalia.
Ia menegaskan, selain relasi pengasuhan yang aman, edukasi mengenai relasi sehat sejak dini menjadi benteng penting pencegahan child grooming.
“Ketika anak terbekali pemahaman tentang relasi sehat, kemampuan berpikir kritisnya akan meningkat seiring usia dan pengalaman,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’mmar R. Qadafi





