SEMARANG, beritajateng.tv – Satu tahun kepemimpinan Ahmad Luthfi-Gus Yasin di Jawa Tengah, narasi “Jateng Tak Punya Gubernur” masih meramaikan media sosial.
Narasi tersebut kerap muncul saat bencana melanda Jawa Tengah, mulanya saat banjir rob merendam Sayung, Demak, pada Mei 2025 lalu. Saat menanggapi penanganan banjir rob Sayung, Luthfi menyebut hal itu merupakan wewenang BBWS alias nasional. Tak berselang lama, warganet pun geram dengan pernyataan tersebut sehingga muncul narasi “Jateng Tak Punya Gubernur”.
Pada awal tahun 2026, narasi tersebut kembali muncul saat banjir merendam Pekalongan, Batang, dan jalur Pantura yang dilewati rel kereta api. Terlebih, saat itu, Luthfi tengah menunaikan ibadah umrah. Selain narasi “Jateng Tak Punya Gubernur”, Luthfi juga kerap disandingkan dengan sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM.
Menanggapi fenomena tersebut, pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip), Nur Hidayat Sardini (NHS), buka suara. Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada kinerja Ahmad Luthfi, melainkan pada tata kelola komunikasi publiknya.
BACA JUGA: Beredar Narasi Ahmad Luthfi Akan Razia Warga Tak Bayar Pajak Kendaraan, Pemprov Jateng: Itu Hoaks
Menurutnya, persepsi publik sangat ditentukan oleh cara seorang pemimpin membingkai dan menyampaikan capaian kerjanya, tak terkecuali pada Ahmad Luthfi.
“Saya lihat ada tata kelola berkomunikasi kepada publik yang buat saya itu kurang mumpun. Problemnya adalah apa yang dilakukan, apa yang dicapai oleh seorang gubernur. Nah, sedangkan persepsi itu sangat dibangun oleh keadaan dalam cara berkomunikasi,” ujar NHS saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Jumat, 20 Februari 2026.
Ia membandingkan gaya komunikasi Luthfi dengan kepala daerah lain seperti Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM, maupun Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
“KDM atau Bu Khofifah itu kan jauh lebih bagus buat saya itu cara berkomunikasi kepada publik. Sekali lagi, apa pun prestasi yang sangat bagus dari gubernur juga tidak akan masyarakat lihat jika kemudian tidak rajin menyampaikan secara intensif,” jelasnya.




