Pendidikan

Ramai Kasus Bullying Anak SD di Pemalang, KPAI: Kegagalan Sistematis Lembaga Pendidikan hingga Negara

×

Ramai Kasus Bullying Anak SD di Pemalang, KPAI: Kegagalan Sistematis Lembaga Pendidikan hingga Negara

Sebarkan artikel ini
kekerasan anak | Perundungan SMPN 1 Blora | Bullying Siswa SMP Semarang | Perundungan Blora | SMPN 1 Geyer | Perundungan SD | bullying cilacap | pelaku perundungan
Ilustrasi bullying anak sekolah. (Foto: Pexels/Pixabay)

Pihaknya secara khusus menyoroti Jawa Tengah. Adapun rentetan kasus yang terjadi di wilayah ini perlu menjadi bahan evaluasi bagi dinas pendidikan dan pemerintah daerah, utamanya dalam memastikan mekanisme pencegahan serta penanganan kekerasan berjalan efektif.

BACA JUGA: Temukan Kasus LGBT di Sekolah Elite, Komisi VIII DPR RI Desak Pemda Lakukan Pengawasan Ekstra

Meski demikian, ia meminta penyelesaian masalah tidak seharusnya ԁilakukan dengan saling menyalahkan. Semua pihak perlu melihat kekurangan masing-masing dan memperbaiki sistem perlindungan yang ada.

Selain sekolah, ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Orang tua perlu mengetahui aktivitas anak, memberikan dukungan emosional, dan menciptakan lingkungan rumah yang aman agar anak berani bercerita ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan.

Ia mengingatkan, pola komunikasi di rumah perlu ԁiperbaiki. Anak perlu merasa ԁiperhatikan, mendapatkan apresiasi, dan tidak menjadi sasaran kekerasan di lingkungan keluarga.

Anak yang memiliki ruang aman untuk bercerita akan lebih berpeluang mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan, termasuk perundungan di sekolah.

“Untuk orang tua, tidak ada yang namanya gagal menjadi orang tua. Tapi orang tua akan menyesal ketika tidak memberikan pengasuhan yang positif pada anak,” katanya.

Media Sosial dan Lingkungan Pertemanan Anak Ikut jadi Sorotan

Tak cuma itu, Diyah turut menyoroti pengaruh media sosial dan permainan daring atau game online terhadap perilaku anak.

Ia mengatakan, paparan konten kekerasan yang berulang berpotensi membuat anak menganggap tindakan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah.

Saat anak terus melihat pemberitaan atau konten mengenai perundungan, sebagian dapat salah menangkapnya sebagai perilaku yang biasa ԁilakukan orang lain.

BACA JUGA: 36 Ribu Guru Kemenag Jateng Belum Sertifikasi, Pengajar Swasta Hanya Andalkan Honor Madrasah

“Anak-anak ini bisa saja dapat insight dari media sosial untuk melakukan bullying. Atau game online,” ujarnya.