Ia mengungkapkan salah satu kendala yang banyak adalah lokasi sekolah mitra yang cukup jauh dari tempat tinggal calon siswa. Meski memperoleh pendidikan secara gratis, sebagian siswa memilih tidak melanjutkan karena mempertimbangkan biaya dan akses transportasi.
“Jarak ini menjadi salah satu hal yang dinas pertimbangkan untuk penempatan rombel di sekolah-sekolah swasta,” jelasnya.
BACA JUGA: Soal MBG Integrasi dengan Kantin Sekolah, Komisi E DPRD Jateng: Jangan Sampai Ganggu Proses Pendidikan
Karena itu, Zainuddin mendorong Dinas Pendidikan Jawa Tengah memperkuat koordinasi dengan sekolah-sekolah swasta mitra sejak awal proses penerimaan peserta didik. Menurutnya, komunikasi yang lebih intensif akan membantu pemetaan kapasitas rombongan belajar sehingga persoalan serupa dapat terantisipasi lebih dini.
“Sejak dahulu saya kira komunikasi intensif antara pihak Dinas Pendidikan dengan sekolah swasta ini bisa berjalankan dengan baik. Karena tahun kemarin sudah dijalankan, tahun ini juga dijalankan, tapi nyatanya juga belum bisa 100 persen. Ini harus dicari problemnya antara pihak sekolah swasta sebagai penerima rombel dengan dinas,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





