Jateng

Ratusan Calon Siswa Tak Lolos Sekolah Mitra, DPRD Jateng Soroti Kuota yang Masih Kosong

×

Ratusan Calon Siswa Tak Lolos Sekolah Mitra, DPRD Jateng Soroti Kuota yang Masih Kosong

Sebarkan artikel ini
Titip SPMB
Sekretaris Komisi E DPRD Jawa Tengah, Zainuddin, saat ditemui di kawasan Tembalang, Jumat, 26 Juni 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – DPRD Jawa Tengah mendesak Dinas Pendidikan Jawa Tengah segera mencari solusi bagi 597 calon murid baru yang gagal lolos Program Sekolah Mitra pada SPMB 2026. Langkah itu ternilai penting mengingat masih terdapat kuota di sekolah swasta mitra yang belum terisi.

Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Komisi E DPRD Jawa Tengah, Zainuddin meminta Dinas Pendidikan Jateng segera mencari solusi agar ratusan siswa tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikan melalui sekolah swasta mitra yang masih memiliki kursi kosong.

“Tentu kita masih carikan langkah-langkah strategis untuk bisa ditampung di sekolah-sekolah swasta yang masih belum terpenuhi,” kata Zainuddin saat beritajateng.tv temui di Tembalang, Kota Semarang belum lama ini.

Program Sekolah Mitra pada SPMB Jateng 2026 menyediakan 5.004 kursi bagi calon siswa dari keluarga kurang mampu. Namun hingga proses seleksi berjalan, jumlah siswa yang sekolah terima baru mencapai 3.662 orang. Atau sekitar 73 persen dari total kuota yang tersedia.

BACA JUGA: Banyak Desa Masih Kekurangan Perangkat, Komisi A DPRD Blora Desak Segera Ajukan Pengisian Jabatan

Melihat kondisi tersebut, Zainuddin menilai masih terdapat peluang untuk menempatkan siswa yang belum lolos. Terutama apabila kendalanya hanya berkaitan dengan administrasi.

“Kalau memang karena faktor-faktor lain, nanti kita upayakan untuk bisa masuk ke mitra sekolah yang telah kita kerjasamakan, karena kuotanya belum memenuhi,” ujarnya.

Selain mendorong pemanfaatan sisa kuota, Komisi E DPRD Jateng juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program Sekolah Mitra yang kini memasuki tahun kedua.

Menurut Zainuddin, evaluasi penting untuk mengetahui penyebab program tersebut belum mampu menjangkau seluruh calon siswa yang menjadi sasaran. Padahal salah satu tujuan utamanya adalah menekan angka putus sekolah di jenjang SMA dan SMK.

“Maka kita akan telusuri apa faktor-faktor yang menjadi hambatan. Karena sudah tahun kedua program untuk mengurangi angka putus sekolah ini, utamanya di SMA dan SMK yang menjadi kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi,” katanya.

Ia mengungkapkan salah satu kendala yang banyak adalah lokasi sekolah mitra yang cukup jauh dari tempat tinggal calon siswa. Meski memperoleh pendidikan secara gratis, sebagian siswa memilih tidak melanjutkan karena mempertimbangkan biaya dan akses transportasi.

“Jarak ini menjadi salah satu hal yang dinas pertimbangkan untuk penempatan rombel di sekolah-sekolah swasta,” jelasnya.

BACA JUGA: Soal MBG Integrasi dengan Kantin Sekolah, Komisi E DPRD Jateng: Jangan Sampai Ganggu Proses Pendidikan

Karena itu, Zainuddin mendorong Dinas Pendidikan Jawa Tengah memperkuat koordinasi dengan sekolah-sekolah swasta mitra sejak awal proses penerimaan peserta didik. Menurutnya, komunikasi yang lebih intensif akan membantu pemetaan kapasitas rombongan belajar sehingga persoalan serupa dapat terantisipasi lebih dini.

“Sejak dahulu saya kira komunikasi intensif antara pihak Dinas Pendidikan dengan sekolah swasta ini bisa berjalankan dengan baik. Karena tahun kemarin sudah dijalankan, tahun ini juga dijalankan, tapi nyatanya juga belum bisa 100 persen. Ini harus dicari problemnya antara pihak sekolah swasta sebagai penerima rombel dengan dinas,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp