“Kalau untuk Timur Tengah, untuk sektor domestic worker itu kan sudah beberapa lama moratorium untuk yang bekerja di rumah tangga. Kalau yang penempatan yang dulu-dulu ya masih ada,” tambahnya.
Pasar Timur Tengah Turun, Penempatan Pekerja Migran Jateng Bergeser ke Asia dan Eropa
Lebih jauh, Disnakertrans mencatat sepanjang 2025 total penempatan PMI asal Jawa Tengah mencapai 62.276 orang. Dari jumlah tersebut, kata Aziz, 35.944 orang bekerja di sektor formal, sementara sekitar 26 ribu lainnya di sektor informal.
Aziz menyebut terjadi perubahan tren penempatan, yang mana sektor formal kini lebih dominan ketimbang sebelumnya yang dominan sektor informal.
“Memang pasar tenaga kerja itu sudah agak lama terkait dengan Timur Tengah itu mengalami penurunan secara basis dan ada pasar-pasar baru yaitu di negara-negara Eropa,” ujarnya.
Tujuh besar negara tujuan PMI Jawa Tengah pada 2025 adalah Taiwan (Tiongkok), Hong Kong, Jepang, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Turki.
Ia menambahkan, Jepang kini mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya terkenal sebagai negara tujuan magang, kini skemanya lebih banyak dalam konteks PMI.
“Dulu Jepang itu hanya terkenal dengan magang. Nah, sekarang kan sudah konteksnya menjadi PMI,” jelasnya.
Selain Jepang, pasar baru juga berkembang di sejumlah negara Eropa. “Di Austria ada, terus Polandia ada, terus Spanyol ada,” ujarnya.
Menurut Aziz, jabatan yang tersedia di negara-negara tersebut kini lebih variatif dan menyasar posisi kelas menengah.
“Maka nanti Kementerian KP2MI itu punya program bagaimana menyiapkan PMI untuk anak-anak SMK ke atas. Jadi jabatan-jabatan yang kelasnya agak menengah ke atas,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





