SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah merilis data Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jawa Tengah yang tercatat bekerja di Timur Tengah per 2025, menyusul eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel sejak Sabtu, 28 Februari 2026 lalu.
Tercatat sebanyak 534 pekerja migran asal Jawa Tengah di sektor formal bekerja di Arab Saudi, 124 orang di Uni Emirat Arab (UEA), 67 orang di Kuwait, 30 orang di Qatar, 22 orang di Yordania, 16 orang di Bahrain, dan 10 orang di Oman. Secara total, terdapat 803 PMI asal Jawa Tengah yang bekerja di kawasan tersebut.
Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, memastikan hingga kini belum ada laporan PMI terdampak konflik.
“Prinsipnya pemerintah selalu hadir memberikan perlindungan kepada warga negaranya melalui Kementerian Luar Negeri khususnya Direktorat Jenderal Perlindungan Warga Negara Indonesia melalui atase maupun KBRI yang ada di sana untuk memastikan keselamatan,” ujar Aziz saat beritajateng.tv jumpai di kantornya, Senin, 2 Maret 2026.
Aziz menambahkan, sampai saat ini belum ada informasi terkait kendala yang PMI Jawa Tengah alami di Timur Tengah.
“Nah, sampai saat ini belum ada informasi terkait dengan kondisi yang ada di Timur Tengah khususnya apakah saudara-saudara kita itu ada kendala-kendala terkait dengan adanya eskalasi antara Iran dengan Amerika ini. Nanti akan kami update, apakah ada permasalahan apa tidak,” jelasnya.
Tak hanya itu, Aziz juga menegaskan untuk sektor pekerja rumah tangga di Timur Tengah telah lama berlaku moratorium atau penghentian sementara untuk penempatan baru. Meski demikian, ia mengakui masih ada pekerja rumah tangga asal Jawa Tengah yang merupakan penempatan lama.
“Kalau untuk Timur Tengah, untuk sektor domestic worker itu kan sudah beberapa lama moratorium untuk yang bekerja di rumah tangga. Kalau yang penempatan yang dulu-dulu ya masih ada,” tambahnya.
Pasar Timur Tengah Turun, Penempatan Pekerja Migran Jateng Bergeser ke Asia dan Eropa
Lebih jauh, Disnakertrans mencatat sepanjang 2025 total penempatan PMI asal Jawa Tengah mencapai 62.276 orang. Dari jumlah tersebut, kata Aziz, 35.944 orang bekerja di sektor formal, sementara sekitar 26 ribu lainnya di sektor informal.
Aziz menyebut terjadi perubahan tren penempatan, yang mana sektor formal kini lebih dominan ketimbang sebelumnya yang dominan sektor informal.
“Memang pasar tenaga kerja itu sudah agak lama terkait dengan Timur Tengah itu mengalami penurunan secara basis dan ada pasar-pasar baru yaitu di negara-negara Eropa,” ujarnya.
Tujuh besar negara tujuan PMI Jawa Tengah pada 2025 adalah Taiwan (Tiongkok), Hong Kong, Jepang, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Turki.
Ia menambahkan, Jepang kini mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya terkenal sebagai negara tujuan magang, kini skemanya lebih banyak dalam konteks PMI.
“Dulu Jepang itu hanya terkenal dengan magang. Nah, sekarang kan sudah konteksnya menjadi PMI,” jelasnya.
Selain Jepang, pasar baru juga berkembang di sejumlah negara Eropa. “Di Austria ada, terus Polandia ada, terus Spanyol ada,” ujarnya.
Menurut Aziz, jabatan yang tersedia di negara-negara tersebut kini lebih variatif dan menyasar posisi kelas menengah.
“Maka nanti Kementerian KP2MI itu punya program bagaimana menyiapkan PMI untuk anak-anak SMK ke atas. Jadi jabatan-jabatan yang kelasnya agak menengah ke atas,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





