Jateng

Rayakan Kemerdekaan, Warga Pandansari Ulik Jejak Sejarah Lewat Peta Kuno Semarang Tahun 1695

×

Rayakan Kemerdekaan, Warga Pandansari Ulik Jejak Sejarah Lewat Peta Kuno Semarang Tahun 1695

Sebarkan artikel ini
Warga Pandansari
Peta Kuno Semarang tahun 1965 yang diserahkan kepada Karang Taruna Pandansari. (Foto: Dok. Pribadi)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah semarak menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, memilih cara berbeda untuk memaknai kemerdekaan.

Alih-alih sekadar menggelar perayaan seremonial, warga bersama Komunitas Swara Kesadaran mengajak masyarakat menengok kembali sejarah dan identitas Kota Semarang melalui Pajatan Budaya di Jalan Pandansari 3.

Salah satu sorotan dalam kegiatan tersebut adalah penyerahan peta kuno Kota Semarang, yang ԁibuat pada 1695 oleh M.D. Roy, kepada Karang Taruna Pandansari.

Peta yang merupakan koleksi National Archives tersebut menjadi pintu masuk untuk membuka kembali cerita tentang Semarang pada masa lalu, termasuk jejak nama Terboyo yang ternyata telah tercatat sejak akhir abad ke-17.

Tenaga Pemugaran Cagar Budaya, Bukhori Masruri, mengatakan peta tersebut merupakan salah satu sumber sejarah penting yang dapat membantu masyarakat memahami perjalanan Kota Semarang.

“Itu peta terlama di era kolonial yang menjelaskan tentang pesisir Semarang,” ujar Bukhori saat ԁitemui belum lama ini.

BACA JUGA: Heboh Penemuan Gambar Palu Arit di TPS Pandansari Semarang, Warga Sempat Histeris

Menurut Bukhori, salah satu hal menarik dari peta tersebut adalah tercatatnya nama Terboyo sejak 1695. Temuan itu menjadi catatan penting karena selama ini keberadaan Terboyo kerap ԁikaitkan dengan sosok Kanjeng Terboyo Suryadi Menggolo V.

“Nah, Suryadi Menggolo V itu hidup sekitar 1700, yang mana beliau belum menjadi Bupati Semarang. Nama Terboyo itu sudah tercatat dalam arsip,” katanya.

Bagi Bukhori, keberadaan peta tersebut tidak sekadar menunjukkan lokasi atau bentuk wilayah Semarang pada masa lampau. Arsip itu juga dapat menjadi sumber untuk memahami bagaimana identitas masyarakat Semarang terbentuk.

Ia menilai masyarakat perlu mendapatkan akses lebih luas terhadap arsip sejarah. Selama ini, sejarah lebih banyak hadir dalam bentuk narasi yang ԁisampaikan sejarawan, sementara masyarakat belum tentu pernah melihat sumber sejarah secara langsung.