Politik

Refleksi 30 Tahun Kudatuli, PDIP Kota Semarang Tegas Lawan Ketidakadilan dan Otoriter

×

Refleksi 30 Tahun Kudatuli, PDIP Kota Semarang Tegas Lawan Ketidakadilan dan Otoriter

Sebarkan artikel ini
Refleksi 30 Tahun Kudatuli, PDIP Kota Semarang Tegas Lawan Ketidakadilan dan Otoriter
Peringatan dan refleksi 30 tahun peristiwa Kudatuli oleh DPC PDIP Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

Endro menegaskan semangat perjuangan itu kini diteruskan melalui regenerasi kader. Saat ini, lebih dari 30 persen struktur kepengurusan PDI Perjuangan Kota Semarang di isi kalangan muda dan perempuan. Selain itu, partai telah membentuk 1.528 anak ranting sebagai penguatan organisasi hingga tingkat bawah.

“Yang tua tugasnya mengantar. Masa depan partai ada di tangan anak-anak muda. Karena mayoritas pemilih sekarang adalah generasi muda, maka mereka harus menjadi pelaku utama perjuangan politik,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, DPC PDI Perjuangan Kota Semarang juga mengundang perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Langkah tersebut agar generasi muda memahami sejarah perjuangan demokrasi di Indonesia dan tidak melupakan peristiwa penting yang pernah terjadi.

“Kami ingin menolak lupa peristiwa yang terjadi dalam sejarah bangsa ini. Kudatuli bukan untuk mewariskan dendam. Tetapi menjadi pembelajaran sejarah agar bangsa ini terus menjaga demokrasi dan memperbaiki diri,” tutur Endro.

BACA JUGA: Femega Dian Bidik Milenial dan Gen Z, 617 Pengurus Ranting PDIP Semarang Barat Resmi Dilantik 

Sementara itu, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Semarang, Sutiyono, menilai refleksi Kudatuli bukan sekadar mengenang masa lalu.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat kembali hubungan dengan kader yang pernah mengalami intimidasi dan tekanan politik.

“Melalui peringatan 27 Juli ini kami kembali berkomunikasi dengan teman-teman yang dulu berada di garda depan. Mereka mengalami intimidasi, teror, dan tekanan. Semangat mereka itulah yang ingin terus kami rawat,” katanya.

Ia menilai nilai-nilai perjuangan Kudatuli tetap relevan hingga sekarang. Meski bentuk tantangan demokrasi berubah, kebebasan menyampaikan pendapat tetap harus dijaga.

“Refleksi ini mengingatkan kami bahwa tantangan demokrasi selalu ada. Polanya mungkin berbeda, tetapi keberanian menyampaikan kebenaran dan menjaga demokrasi harus terus dipertahankan,” ujarnya.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengajak seluruh kader melanjutkan semangat juang para pendahulu.