SEMARANG, beritajateng.tv – Program Sekolah Rakyat di Kota Semarang masih menghadapi tantangan sosial di lapangan. Sebanyak tujuh siswa jenjang SMA tercatat mengundurkan diri dari program tersebut.
Namun, pengunduran diri itu bukan karena kualitas pendidikan, melainkan faktor ekonomi keluarga dan minimnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan jangka panjang.
Plt Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat justru untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi, baik melalui peningkatan kualitas pendidikan anak maupun pemberdayaan orang tua.
“Anak-anak ini sebenarnya ingin sekolah. Bukan karena Sekolah Rakyatnya tidak baik. Kendalanya ada pada orang tua yang belum sadar bahwa anaknya sedang di-upgrade martabat dan masa depannya,” ujar Endang, Selasa, 3 Februari 2026.
Ia menjelaskan, sebagian orang tua meminta anaknya berhenti sekolah dan bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Bahkan, dalam beberapa kasus, anak-anak tersebut sebelumnya diminta untuk mengemis sebagai sumber penghasilan keluarga.
“Orang tuanya ingin anaknya bekerja. Mohon maaf, ada yang pekerjaannya itu meminta-minta. Itu yang selama ini menjadi penguat ekonomi keluarga mereka,” kata Endang.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam mengubah pola pikir masyarakat. Negara, kata Endang, hadir tidak hanya untuk menyekolahkan anak, tetapi juga memberdayakan orang tua agar keluarga tetap memiliki sumber penghasilan.
Dinas Sosial Kota Semarang telah berupaya memberikan pendampingan dan pemahaman kepada para orang tua agar mengizinkan anaknya tetap bersekolah. Di sisi lain, pemerintah juga menawarkan bantuan sesuai minat dan keterampilan orang tua.
BACA JUGA: Sekolah Rakyat Jateng Dipercepat: 14 Lokasi Aktif, Pusat Siapkan 11 Sekolah Permanen
“Kami tanyakan minat orang tuanya apa. Kalau mau pijat, kami latih memijat supaya bisa menghasilkan uang. Jadi bukan hanya anaknya yang ditingkatkan, tapi orang tuanya juga kami berdayakan,” jelasnya.





