“Saya pikir Pemprov, gubernur, wagub, bisa punya gaya komunikasi beliau sendiri yang lebih njawani, lebih cocok dengan Jateng. Saya pikir Pak Luthfi dan Gus Yasin ini punya modal sangat baik untuk meningkatkan komunikasi yang lebih cocok dengan gaya Jateng,” tegas Wijayanto.
Wijayanto optimis jargon “Ngopeni Nglakoni” ala Luthfi bisa tandingi KDM
Dalam hematnya, jargon “Ngopeni Nglakoni” yang Luthfi-Yasin bawa sejak kampanye menjadi branding yang cukup bagus baginya.
“Pak Luthfi itu sudah punya branding yang sangat bagus, punya satu slogan yang sangat bisa membumi, yaitu Ngopeni Nglakoni,” ucap Wijayanto.
Kendati begitu, Wijayanto berpesan kepada Luthfi-Yasin untuk membuat konten media sosial yang mendalam dan mampu menjangkau generasi muda.
Ia pun menyarankan Luthi-Yasin untuk aktif di media sosial seperti TikTok hingga X atau Twitter.
“Yang mana Gen Z ada di sana, seperti TikTok, IG, X, dan konten audiensi visual itu saya pikir penting. Pembedanya bisa dengan konten menarik, tapi isinya mendalam,” ungkapnya.
“Kalau konten cepat-cepat itu kan dangkal, kalau konten itu bisa substansinya bagus dan kontennya menarik, saya pikir bisa jadi kombinasi yang bagus,” pungkas Wijayanto.
BACA JUGA: Aksi Damai, Driver Ojol Semarang Bawa Poster Minta Tolong KDM di Depan Kantor Ahmad Luthfi
Jubir ungkap Luthfi tak suka pencitraan di media sosial
Terpisah, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli, menyebut Luthfi merupakan sosok gubernur yang enggan terekspos di media sosial.
Hal itulah yang menurutnya membuat Luthfi kurang populer ketimbang KDM.
“Memang style-nya Pak Gub orang yang gak mau terekspos dan gak mau konten. Jadi salah satu langkah yang bisa itu ya apa yang masyarakat rasakan, yang bisa menyampaikan kepada publik,” jelas Zulkifli. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




