SEMARANG, beritajateng.tv – Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah Divisi Data dan Informasi, Paulus Widiyantoro, menyebut antusiasme pindah pemilih sangat besar di Jawa Tengah, terutama Kota Semarang.
Menurutnya, pemilih yang melakukan pindah pemilih tahap pertama sebagian besar adalah mahasiswa. Pihaknya mengungkap proses pindah pemilih akan jajaran KPU Kabupaten/Kota se-Jateng selesaikan maksimal 2 x 24 jam usai penutupan pada Senin, 15 Januari 2024 pukul 23.59 WIB.
Antusiasme mahasiswa yang begitu besar, ujar Paulus, tak terlepas dari pihak kampus yang enggan menyepakati TPS lokasi khusus yang sebelumnya KPU Jateng tawarkan. Sehingga, tidak ada perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jawa Tengah yang menyediakan TPS lokasi khusus.
“Misalnya Unnes, ketika koordinasi awal kita tawari (TPS) loksus, mereka tidak mau karena rencananya pada hari pencoblosan akan meliburkan mahasiswa. Tetapi keputusannya mereka akan kuliah tanggal 5 Februari. Ini banyak jadinya yang urus pindah memilih,” ujar Paulus saat ditemui langsung di Kantor KPU Provinsi Jateng, Selasa, 16 Januari 2024 siang.
BACA JUGA: Progres Distribusi Surat Suara di Jateng Hampir 80 Persen, KPU Jateng Prioritaskan Daerah Ini
Daerah sekitar kampus paling banyak urus pindah pemilih
Paulus menambahkan, wilayah di Jawa Tengah yang banyak mengurus pindah tempat memilih ialah daerah sekitar kampus.
“Kalau Solo ya UNS, kalau Semarang ya Undip dan Unnes di wilayah Tembalang itu. UIN Walisongo juga besar. Kalau swasta kan masih libur waktu hari pencoblosan, kalau negeri banyak juga yang sudah masuk kuliah,” bebernya.
Selain kampus, santri di Jawa Tengah yang tidak mengadakan TPS lokasi khusus di pesantrennya ramai yang mengurus pindah pemilih. Bahkan, beberapa jam sebelum penutupan pindah pemilih, Paulus menuturkan ada ratusan santri di Pekalongan yang mendaftar pindah pemilih.
BACA JUGA: Narapidana Bisa Gunakan Hak Pilihnya, KPU Jateng: TPS Khusus Lapas Terbanyak di Nusa Kambangan
“Ada santri di Pekalongan itu baru jam 11 malam kemarin melaporkan dan menyerahkan ratusan nama, kebanyakan yang menyerahkan berkas di atas jam 10 malam, di jam itu meningkat drastis. Dulu pesantren mereka ditawari tetapi tidak berkenan,” sambung Paulus.
Adapun jumlah TPS lokasi khusus di Jawa Tengah, jelas Paulus, ada sebanyak 102 tempat, yang mana jumlah itu mayoritas berasal dari lapas rutan dan pesantren.
“Jadi lokasi khusus itu kan sudah kami sosialisasikan dulu pasca-coklit. Kami tawarkan mereka, tetapi hanya ada 102 yang menyanggupi untuk loksus, yang lainnya tidak berkenan sehingga kami tidak bisa memaksa. Ternyata mungkin dinamika pembelajaran setelah itu kan tetap tidak libur, sehingga diarahkan pindah memilih,” jelas Paulus.
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi




