SEMARANG, beritajateng.tv – Program Sekolah Rakyat yang ԁigencarkan pemerintah sebagai upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem mendapat beragam respons dari masyarakat.
Di tengah optimisme terhadap program tersebut, sebagian pengelola madrasah swasta justru menyimpan kegelisahan. Mereka menilai perhatian pemerintah terhadap lembaga pendidikan yang telah lama berkontribusi mencerdaskan bangsa masih belum optimal.
Salah satu suara itu datang dari Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Aswaja Tengaran, Kabupaten Semarang, Hafid Zaen Akhmad.
Sebagai pendidik, Hafid mengaku mendukung setiap program pemerintah yang bertujuan meningkatkan akses pendidikan bagi masyarakat. Namun, sebagai pengelola madrasah swasta, ia merasakan adanya ketimpangan perhatian terhadap lembaga pendidikan yang telah lama berdiri dan melayani masyarakat.
BACA JUGA: Seleksi PPPK Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat 2026 Dibuka, Ini Syaratnya
“Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan Islam, kami kerap merasa seperti anak tiri yang ԁipaksa mandiri tanpa bekal yang cukup,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di Tengaran, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut Hafid, pemerintah seharusnya tidak hanya fokus membangun lembaga pendidikan baru, tetapi juga memperkuat institusi yang telah lebih dulu hadir dan berakar di masyarakat.
Ia mempertanyakan kebijakan pembangunan Sekolah Rakyat yang membutuhkan anggaran besar, mulai dari pembebasan lahan, pembangunan gedung, hingga kebutuhan operasional dan sumber daya manusia.
“Ketika negara membangun sekolah baru dengan biaya yang besar, di sisi lain masih banyak madrasah swasta yang berjuang mempertahankan operasionalnya dengan berbagai keterbatasan,” katanya.
Nilai Sebagian Anggaran Sekolah Rakyat Sebaiknya untuk Perkuat Madrasah
Hafid menilai, jika sebagian anggaran tersebut ԁialokasikan untuk memperkuat madrasah yang sudah ada, dampaknya dapat ԁirasakan lebih luas karena infrastruktur dan sistem pendidikan telah tersedia.
Menurutnya, madrasah swasta selama ini tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan formal. Akan tetapi, juga berperan dalam membentuk karakter dan moral peserta ԁiԁik melalui pendidikan berbasis nilai-nilai keagamaan.





